GELAR LAPAK BACA DAN DISKUSI SERTA PEMBAGIAN BUKU GRATIS UNIVERSITAS MATARAM


GELAR LAPAK BACA DAN DISKUSI SERTA PEMBAGIAN BUKU GRATIS DENGAN TEMA “ANCAMAN MELITERISME DAN NEOLIBERALISME DALAM DUNIA PENDIDIKAN” UNIVERSITAS MATARAM.

Kebebasan adalah dasar penting untuk lahirnya semua nilai yang baik (Albert Einstein).

Diantara beberapa kebebasan dasar yang seorang sangat inginkan agar kehidupannya utuh dan tak menderita, maka terbebas dari rasa takut adalah tujuan sekaligus alat untuk mencapainya ( Aung san sudah kyi).

Pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia (Nelson Mandela).

Pendidikan Indonesia hari-hari ini adalah pendidikan gaya bank untuk menyimpan atau mengumpulkan uang perampokan atau tagihan dari para mahasiswa yang mau melanjutkan studi tersebut. entah itu uang dari SPP’UKT ataupun uang praktik yang terdiri dari uang PKL,KKN bahkan uang ujian skripsi.

Sehingga model pendidikan gaya bank ini kami melihat bahwa orang yang berduit saja yang bisa melanjutkan pendidikan dan orang yang tidak punya uang tidak melanjutkan kuliah karena kendala ekonomi atau kendala biaya pendidikan yang mahal. Universitas- Universitas yang ada diindonesia dijadikan sebagai lahan bisnis atau lahan pasar bebas ekonomi yang dipraktekan oleh petinggi-petinggi perguruan tinggi itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan kapitalisasi pendidikan,komersialisasi pendidikan dan neoliberalisme dalam dunia pendidikan.

Persis Paulo Freire mengibaratkan bahwa penindasan didunia pendidikan sebagai “sistem bank”. Dalam pendidikan semacam ini, hanya guru atau dosen saja yang dianggap memiliki pengetahuan, sedangkan murid hanyalah “celengan kosong”.murid dituntut mengikuti apa yang diminta sang guru atau sang dosen, dan kreativitas mereka pun menjadi kerdil karena penindasan terselubung ini.

Lebih lanjut Paulo Freire kategorikan pendidikan dibagikan menjadi dua,yaitu pendidikan gaya bank dan pendidikan hadap masalah.pendidakan gaya bank merupakan sistem pendidikan yang menindas, menghisap, membatasi gagasan-gagasan, ide-ide, pikiran-pikiran dan sistem pendidikan yang tidak peduli dengan tentang kemanusiaan, tentang kebebasan, tentang lingkungan dan sebagainya. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri,mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan orang lain. Sedangkan pendidikan hadap masalah adalah mahasiswa memberikan ruang kebebasan agar mahasiswa dapat mengembangkan gagasan dan ide-idenya dalam dunia pendidikan dengan bebas tanpa dibatasi oleh para pemangku dosen-dosen.

Di bawah rezim borjuasi biaya sekolah sangat mahal, pendidikan menawarkan jualannya lewat jurusan, yakni semakin dibutuhkannya oleh industri jurusan yang berada di kampus maka semakin mahal pula harganya, layaknya pendidikan dijadikan sebagai komoditi yang diperdagangkan, contoh sederhananya adalah antara jurusan kedokteran dan jurusan keguruan itu sangat beda sekali harganya, kedokteran sampai mematok harga puluhan juta dan begitupun dengan jurusan keguruan walaupun tidak sebesar jurusan kedokteran namun harganya cukup menyulitkan masyarakat yang minimal mematok harga jutaan, lalu bagaimana dengan anak yatim dan masyarakat miskin lainnya? tentu tak bisa berbuat apa-apa melainkan terus hidup melarat dan hal tersebut tidaklah selaras dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:

“(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” apakah pemerintah Indonesia tidak melanggar hak-hak warga negara Indonesia yang tidak dapat pendidikan yang layak karena tidak ada uang untuk membayar kuliah?? Dengan realitas sosial ini kami sependapat atau sepakat dengan perkataan Haris Azhar Pegiat HAM bahwa “Pemerintah membuat peraturan, Undang-Undang dan Hukum adalah untuk mengawasi, mengontrol, memantau dan menghukum masyarakat” lebih lanjut Haris Azhar peraturan, UU dan Hukum Indonesia adalah tempat penjara untuk rakyat tertindas, terhisap dan termiskin.

Sekolah telah berubah menjadi sekedar instrumen tatanan kelas borjuasi. Pendidikan sepenuhnya dijiwai semangat kasta borjuis, kebijakan pemerintah hari-hari ini seolah membicarakan padahal pendidikan telah dikotori oleh hasrat politik borjuasi, sebagaimana juga telah digambarkan oleh Plato terkait hubungan politik borjuasi dengan pendidikan. Plato menjelaskan bahwa setiap budaya terus berupaya mempertahankan kontrol atas pendidikan di tangan kelompok-kelompok elit yang secara terus-menerus menguasai politik, ekonomi, agama, dan pendidikan. Artinya, bahwa dunia pendidikan tidak bisa lepas dari politik, karena untuk mempertahankan kontrol pendidikan sendiri dibutuhkan sebuah keputusan politik dari negara. Tidak hanya itu saja, pendidikan juga dapat menjadi sebuah alat kontrol negara dalam mempertahankan kekuasaannya dan membangun citranya.

Fungsi negara ada tiga, yaitu: akumulasi, legitimasi dan represif.

1).Akumulasi merupakan pengumpulan; penimbunan; penghimpunan modal.”
Tambahan periodik suatu dana dari bunga atau tambahan lain pada tambahan laba neto pada laba yang ditahan.” Negara ibaratnya sebuah bank yang mengumpulkan kekayaan alam dari hasil perampokan dari rakyat entah itu, hasil perampokan dari pajak mobil,motor,lampu listrik dan bahkan hasil perampokan dari pertambangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan lahan atas nama kepentingan persama atau kepentingan ini disebut dengan kapitalisme hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan orang lain.

2).legistimasi merupakan institusi yang mendukung,mengesahkan dan membenarkan segala kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Indonesia. Legistimasi ini terdiri dari partai-partai,tentara nasional indonesia (TNI), kepolisian republik indonesia (kapolri),intelijen indonesia (II),Badan intelijen negara (BIN),Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN),badan intelijen strategis(BAIS), pengacara, dosen-dosen dan organisasi reaksioner seperti GMKI, PIB dan organisasi reaksioner lainnya.
Legistimasi merupakan lembaga-lembaga yang kami sebut diatas tersebut sedang dan terus mendukung kekerasan negara kolonialisme indonesia untuk menlegalkan kejahatan kemanusiaan, kejahatan kriminalisasi dan rasisme, kejahatan fasisme, kejahatan represif dan kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik dengan dalih-dalih menjaga nama baik kampus dan seterusnya.

3).Represif, represif merupakan pembungkaman ruang kebebasan akademik pemukulan, penangkapan, penahanan, pemenjarahan, kriminalisasi rasisme dan melarang diskusi dan lapak baca, melarang berorganisasi, berekspresi,berkumpul dan bahkan membatasi gagasan-gagasan,ide-ide dan pikiran-pikiran yang dimiliki oleh mahasiswa dan model represif didalam dunia kampus ini merupakan pembunuhan psikologis dan karakter intelektualitas mahasiswa itu sendiri.
Pendidikan Indonesia model beginilah yang dikritik oleh Eko Prasetyo dalam buku yang berjudul bangkitah gerakan mahasiswa dan bergeraklah! mahasiswa agar mahasiswa itu harus pikiran terbuka,pisau analisis yang tajam dan memberikan nalar kritis yang tajam pula dan Eko Prasetyo mengatakan bahwa kampus atau kelas bukanlah tempat orang berdoa yang harus diam mendengar dan pulang melainkan kampus atau ruang kelas adalah tempat pertarungan gagasan- gagasan dan ide-ide yang dimiliki oleh mahasiswa dan mahasiswi.

Universitas mataram terapkan dan mempraktekan dalam tubuh birokrasi kampus adalah neomeliterisme, neoliberalisme, neokapitalisasi, fasisme, represif, rasisme dan diskriminasi terhadap mahasiswa kelas bermodal dan mahasiswa tidak bermodal lebih-lebih terhadap mahasiswa West Papua yang sedang studi universitas mataram. dengan membatasi diskusi-diskusi, lapak baca dan menyampaikan pendapat atau gagasan-gagasan diruang bebas maupun didalam ruang kelas.atas dasar itulah kita terus dan sedang berusaha membukakan lapak baca dan diskusi serta pembagian buku-buku gratis yang berjudul pemekaran dan kolonialisme modern dipapua karya Bapak Dr.Socrates Sofyan Yoman.

Kami juga berusaha menyadarkan dan memberikan pemahaman kepada kawan-kawan Indonesia bahwa kami sedang ditindas, dijajah, dibudak dan kami juga mengalami stigma-stigma buruk yang diproduksi dan dipraktekan oleh negara kolonialisme indonesia kepada kami rakyat dan bangsa west papua yaitu orang papua belum bisa,belum mampu, bodoh, primitif, termiskin, terbodoh dan tertinggal dan Mitos kasar atau keras lagi adalah Seperatis, makar, Kkb dan teroris yang merendahkan harkat dan martabat kami dan bangsa kami dari tahun ke tahun dan dari presiden ke-presiden oleh pemerintah kolonial Indonesia.

Disisi lain pandangan masyarakat secara keseluruhannya telah terhegemoni oleh ideologi penindas yang dominan sehingga tidak heran masyarakat melihat pendidikan di bawah rezim kapitalis baik-baik saja bahkan menjadi harapan, melihat kondisi itu, dalam pandangan Antonio Gramsci terkait sumbangsih pendidikan untuk merawat hegemoni pemikiran borjuis:

“Pendidikan dilihat memiliki peran yang strategis dalam mengabsahkan hegemoni yang dominan. Kaum intelektual dapat memainkan peranan penting untuk mempertahankan status-quo yang ada, termasuk hegemoni kebudayaan dominan.”

Suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan cara kekerasan dan persuasi. Dapat dikatakan bahwa hegemoni merupakan sebuah kondisi di mana kelas yang dominan terlalu kuat terhadap kelas di bawahnya, sehingga secara tidak langsung adanya sebuah persetujuan spontan dari kelas bawah terhadap perlakuan kelas atas atau dengan kata lain kelas bawah tidak dapat berbuat apa-apa untuk melawan kelas atas yang mendominasi tersebut.

Kolonialisme kapitalisme dan meliterisme adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisakan dari penindasan itu sendiri pandangan orang papua melihat Indonesia adalah kolonialisme bagi orang papua.sementara status indonesia adalah sebagai negara tergantungan pada negara-negara imperialisme negara adiday Amerika Serikat. Sedangkan status bangsa west papua adalah bangsa jajahan sehingga Indonesia mau mempertahankan bangsa jajahannya dengan alat kekerasan yaitu meliterisme indonesia. Sehingga meliterisme indonesia ini berbahaya bagi bangsa jajahan untuk beraktivitas entah itu bersekolah, berkumpul, berkuliah dan menyampaikan pendapatpun dibatasi diancam oleh meliterisme indonesia itu sendiri ini terjadi dipulau Indonesia maupun tanah air bangsa west papua itu sendiri.

Medan Juang, 18 Oktober 2022

Panjang umur hal-hal baik!

Panjang umur perjuangan pembebasan nasional papua barat!

Panjang umur rakyat tertindas, terhisap dan termiskin!

Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota (AMP-KK) Lombok dan Pusat Perjuangan Mahasiswa Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolkot Mataram

Berita Terkait

Top