Apakah Palang Merah Internasional Menjadi Kunci Negosiator Atas Pembebasan Penyanderaan Pilot Susi Air asal Selandia Baru di Paro Nduga Papua?


Sebelum menjawab ya atau tidak, perlu kita melihat kebelakang persoalan sebelumnya atas peristiwa Sandera Mapenduma dibawah pimpinan Jendela Kelly Kwalik bahwa persoalan pelanggaran HAM terutama kematian banyak nyawa melalui pengeboman di Geselema setelah gagal kesepakatan penyerahan para Sandera itu itu titik tolak.

Pertama, Keterlibatan Palang Merah Internasional yang tidak independen!

Keterlibatan Palang Merah Internasional upaya pembebasan Sandera Mapenduma 1996 sesungguhnya dijadikan topeng oleh tentara.
Siapa yang tidak kenal di saat pertama awal detik-detikl pengeboman di kampung Geselema itu? Helikopter pertama yang mendarat adalah helikopter berlambang Palang Merah Internasional yang biasanya memasang bendera lanang IRC dibagian kanan jendela pesawat tetapi pada sore hari itu memasang bendera di lambang IRC dibagian kiri jendela pesawat bertanda buruk.

Usai mendarat, Ibu Silvani, menurunkan senjata dan arahkan Rentetan tembakan ke arah Silas Kogoya dan Daniel Kogoya. Silas Kogoya dan Daniel Kogoya adalah Bapak kandung dari Egianus Kogoya dan Pemne Kogoya yang kini menjabat sebagai Panglima Kodap III dan Komando Oprasi.

Berdasarkan kesaksian Daniel Kogoya, bahwa Palang Merah Internasional ini ditumpangi oleh Solviana, seorang Militer Asing yang menyamar sebagai anggota ICR dan seorang Asing yang menurut keterangan Daniel Start warga negara Australia yang disandera saat itu menyebutkan bahwa para anggota OPM yang tewas tidak lain merupakan korban dari pasukan SAS dan EO yang menyamar sebagai petugas International Red Cross (Palang Merah Internasional). Namun yang umum tersiar ke publik adalah keberhasilan pasukan Kopassus yang dipimpin Prabowo.

Setelah aksi Palang Merah itu bebeberapa detik kemudian 12 helikopter mengepung kampung ini dan dibombardir. 150 orang warga meninggal dunia hingga organ tubuh dimakan babi. Ini peristiwa misterius yang dunia menutup mata atas kejahatan ini.

Persoalan kedua adalah keterlibatan tentara Asing dalan upaya pembebasan Sandera tim penyelidi taman lorenzo Mapendum 95.

Tidak sedikit tentara bayaran yang terlibat dalam upaya pembebasan sandera dimaksimalkan hingga di akhiri dengan peristiwa pertumpahan darah.

Dari persoalan di atas kemudian adanya media yang berkembang dan isu akan pentingnya negosiator Internasional terutama Palang Merah Internasional upaya pembebasan sandera Cap. Pilot Susi Air, saya kira tidak akan pernah mengijinkan untuk masuk.

Apalagi E. k dan pasukannya tahu betul persoalan sandera Mapenduma dan kejahatan dan pelanggaran HAM di Geselema melalui keterlibatan Palang Merah Internasional dan tentara bayarannya.

Hingga hari ini, belum jelas upaya apa selain pemerintah Daerah yang sadang upaya pendekatan, Gereja dan masyarakat melalui Tokoh-tokoh di sana. Namun mendengar kabar bahwa siapapun tidak akan dengar kecuali pengakuan kedaulatan politik sesuai tujuan penangkapan dan penahanan pilot ini.

Jadi saya merasa adalah kesalahan awal yang dapat memperburuk kondisi pembebasan sandera Cap. Pilot asal Selandia Baru ini.

Java, 13 Februari 2023

O. T

Berita Terkait

Top