PERGI KE NEGERI ORANG PAPUA TAPI ISINYA BUKAN ORANG PAPUA 


Info news pengamat Sikon Papua 

“Semuanya kelihatan tidak mungkin sampai segala sesuatu selesai.” Nelson Mandela

Suatu hari saya mau terbang ke bangsaku yang bernama west Papua karena ku telah selesaikan studi di pulau Jawa. Harga tiket pesawat rata-rata harga tiket sama dengan lintas negara yang paling murah 5 juta untuk Line air dan Batik air apalagi Garuda Indonesia itu paling murah 6-10 juta sekali terbang ke West Papua. Dalam penerbanganpun tidak langsung ke Papua tapi harus transit beberapa provinsi seperti Surabaya, Makassar atau Jakarta lalu ke Papua.

Di waktu itu kamerad-kamerad antarkan saya ke bandara internasional Lombok di siang terik matahari begitu panas kamerad-kamerad saya yang di maksud antaranya adalah Wene,Ibhas, Benjos, Tombol, Naldo, Benis, anaknya Bang Yan dan Bang Yan Mangandar Direktur PBHM NTB dan kebetulan kami diantarkan oleh bang Yan pake mobil dan sesudah tiba di bandara internasional Lombok saya dan dua kawan ceking tiket pesawat lalu keluar begini Intelijen sudah ada di bandara internasional dan saya kira itu hal biasa bagi saya di sepanjang hidup saya karena di dalam kelas saja Intelijen pernah awasi saya dan para dosen-dosen membiarkan hal itu.

Jam 4 sore saya terbang dari bandara internasional Lombok ke Surabaya didalam pesawat tidak ada orang Papua dan itu wajar karena Lombok dan Surabaya bukan negeri orang Papua. Kami tiba Surabaya sekitar jam 6 dan kami tunggu di ruang tunggu sekitar 2 jam dalam ruang tunggu keanehan adalah orang tidak kenal tapi minta foto dengan saya dan kami terbang lagi ke Makassar sekitar jam 9 malam dan dalam pesawat ini ada orang Papua sekitar 10 orang saya kesal sedikit karena ada orang-orang banyak tapi satu orang kawan Papua langsung bilang ko orang Nduga to? sebetulnya saya tidak mau menyangkal Suku saya tapi saya terpaksa menyangkal bahwa bapa salah orang saya orang Papua bukan orang Nduga.

Tiba di bandara Makassar sekitar pukul 11 malam dan di ruang tunggu saya ketemu dengan kakak Leo LBH Kaki Abu dan pasukannya antara lain adalah kakak Sayang,Dhiera Tappi,Gamaliel, dll dan saya tujuan ke Hollandia dan teman-teman lain ada yang ke Sorong, Merauke dan Timika. Sebelum saya terbang ke Hollandia kita diskusi dengan kawan-kawan LBH Kaki Abu mengenai persoalan bangsa West Papua terkait dengan ketidakadilan, kejahatan kemutilasian, kejahatan perampasan hak-hak rakyat Papua Barat oleh Indonesia dll. Diskusi ini hampir kami habiskan 2 jam lebih dan jam 13.40 wita saya terbang ke Timika Papua tempatnya tambang emas (PT Freeport Indonesia) tapi anehnya adalah di dalam pesawat tidak ada orang Papua satupun padahal kita pergi ke rumah atau daerah orang Papua. Makanya saya kasih judulnya adalah “Pergi ke Negeri Orang Papua Tapi Isinya Bukan Orang Papua”. Ini sangat terlihat bahwa dalam satu awak pesawat dipenuhi oleh orang-orang Indonesia (Surabaya, Makassar, Manado, Batak,Kalimantan,Sulawesi dll) dan rupanya mereka bahagia dan senang sekali kaya mau pergi ke kampung mereka. 

Saya tanya di samping kursi kiri dan kanan dari mana kalian? Kami dari Sulawesi,oke.ke Papua untuk apa? Mas kami sudah lama di Papua 20 tahun dan kami kerja di Papua. Luar biasa,karena kami sangat susah dapat pekerjaan di luar Papua tapi bapa-bapa ini mudah sekali bisa dapat pekerjaan di Papua atau mungkin bapa-bapa ini punya orang dalam mereka tertawa lalu mereka bilang ada mas. 

Lebih lanjut saya terbawa dalam pikiran karena didalam pesawat ini merupakan orang-orang Non-Papua semua padahal saya ke Papua. Dalam pikiran saya sedang bertanya-tanya apakah saya pergi ke Papua atau ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali atau Pulau Jawa lainnya? Dan di dalam pesawat ini diisi oleh personil Brimob hampir 300 personel yang lengkap dengan atribut alat tempur makanya dalam pikiran saya mulai bertanya-tanya apakah personel ini untuk menjaga tanah Papua atau mereka akan merusak tanah Papua?? Militer Indonesia semua turun di Timika dan tujuan mereka adalah lanjut ke kab Nduga. Saya melanjutkan ke Jayapura menggunakan pesawat yang sama tapi penumpangnya di Dominasi oleh Non Papua. 

Ini tandanya orang Papua sedang kepunahan di atas tanahnya sendiri tapi kami orang Papua tidak sadar bahwa tidak ada terjadi apa-apa di atas bangsa kami west Papua. Saya sudah tiba di bandara Sentani Jayapura saya melihat dan mengamati di sepanjang jalan itu diDominasi oleh non Papua di tambah lagi bahwa di seluruh tembok, tiang listrik, pot bunga, batu-batu dan bekas jalan danau Sentani dihiasi dengan bendera merah putih, Pancasila dan lebih aneh lagi adalah warna tulisannya juga merah putih. 

 

Tujuan jahat Indonesia yang sistematis, terstruktur serta kolektif yang terencana dan terukur untuk memusnahkan orang Papua di atas bangsa, tanah dan negerinya sendiri itu sangat kelihatan berjalan telanjang di depan mata kita sendiri.Oleh karena itu jangan sampai nasib orang Papua seperti Suku Aborigin dan Suku Indian di atas bangsa West Papua ini maka suatu hari bangsa lain akan ceritakan bahwa dulu di Papua ada orang rambut keriting dan kulit hitam pernah ada tapi sekarang tidak ada.

Kaum bangsa West Papua apakah mau nasibmu seperti Suku Aborigin dan Suku Indian atau menjaga rasmu Melanesia West Papua ini? Dan nasibmu seperti Suku Aborigin dan Suku Indian sikapmu seperti apa dan untuk menyelamatkan bangsamu,rasmu dan tanahmu Papua dengan sikapmu harus seperti apa? Apakah kami hanya diam lalu menyelamatkan bangsa ini?

Medan bertanya-tanya, 13 November 2023

Panjang umur hal-hal baik!

Panjang umur Perlawanan!

Berita Terkait

Top