Kita Mendidik Generasi West Papua Dengan berbasis Konteks Budaya Papua


 

Didiklah Rakyat Dengan Pendidikan dan Didiklah Pengguasa Dengan Perlawanan” Pramoedya Ananta Toer.

Penulis: Nikyles Yigibalom merupakan Mahasiswa Papua dan Kamerad Nikyles menulis dan mengirim tulisan ini sebagai respect terhadap kehadiran Sekolah Rakyat Nuwi Nindi Yuguru . Tulisannya sebagai berikut:

Kita mendidik generasi Papua dengan berbasis konteks budaya, paradigma dan filofi orang Papua. mendidik generasi Papua berdasarkan aktualisasi apa yg mereka alami, apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan hari ini lalu membuat konseptualisasi dan kontektualisasi.

Mendidik mereka untuk bebas dari belenggu penindasan, penghisapan dan pembunuhan oleh mereka (penjajah Indonesia) yang tidk mengenal peri kemanusiaan dan hukum humaniter. Krna itu, Pendidikan ialah hal fundamental, benarlah dikatakan Faul foreri, “pendidikan adalah alat perlawanan.” dan “alat pebebasan”.

Salut padamu kamrad Nyamuk Karunggu telah mendirikan sekolah rakyat di Ndugama.

Kuyakin Mendirikan Sekolah alternatif seperti dirimu di seluruh Papua yang berbasis rakyat, waktu tak lama Papua akan gempar dan mengkepung Indonesia. Indonesia saat ini sedang panik kalau generasi Papua menemukan jati diri sesungguhnya lalu serangan balik.

Kita teringat sejarah pendidikan masa penjajahan India Belanda terhadap menjajah bangsa Indonesia ketika itu, dalam sistem dan kurikulum pendidikan mengajarkan anak pribumi lebih orientasi pada nasionalisme Belanda, dipaksa patuh pada lambang dan mengafal nama-nama tokoh perjuangan merebut bangsa yang sedang dijajah, pendidikan yang berbasis akar rumput dan lokal semua ditegelamkan oleh mereka bangsa Belanda.

melihat layu pendidikan Indonesia saat itu, Tan Malaka berhasil mendirikan sekolah rakyat di kampung, di didalamnya banyak mendorong dan mendidik generasi untuk mengusir maling atau penjajah.

Watak penjajah India Belanda memperlakukan Indonesia saat itu, kini dipraktekan terhadap bangsa Papua, sistem pendidikan Indonesia memaksa guru-guru agar mendidik Anak-anak Papua loyal dan patuh pada NKRI dengan
Memaksa hafal pancasila tanpa uraian yang mendalam sikronisasi perkembangan dinamika geopolitik dan sosial saat ini, sejarah semacam itu semu bagi orang Papua.

Kita membuka lembaran otonomi khusus, disana mengamanatkan untuk simbol dan sejarah Papua diajarkan di dalam sekolah sebagai muatan lokal (mulok).

Namun, tidak digubris oleh pengendali sistem yakni jakarta melalui menteri pendidikan di tranformasikan ke dinas pendidikan hingga sekolah, guru hanya menjalankan perintah tuan.

Guru-guru orang asli Papua tidak sebodoh itu, saya yakin mereka paham dan mengerti namun mesin atau sistem Jakarta mengatur mereka. Tidak usah jauh-jauh, baru-baru Ini tidak salah di kabupaten Intan jaya sejumlah oknum TNI berseragam sambil moncong senjata memaksa kepala sekolah agar upacara menghormati bendera merah putih setiap hari senin. Belum lagi TNI/polisi kamuflase
Menjadi guru dan Nakes bahkan diduduki lembaga lembaga otonom tidak boleh membawa alat tajam seperti lembaga RS, sekolah-sekolah dan Gereja tiga lembaga tersebut sangat di warning keras adanya senjata tajam, pisau, apalagi dengan niat kriminal, tapi kondisi realita saat ini di Papua semua campur anduk.

Sebelum mengakhiri coretan ini saya pesan bagi kaum pemuda lainnya. Ibarat kata Kondisi bangsa Papua sebentar lagi akan tumbang jika kita terlenah dalam kepunggan hegemoni Jakarta.

bangkit dan selalu berdiri pada kebenaran sejarah Papua Barat. Perjuangan Papua merdeka tidak lain kamu beribadah dan doa.

Kita betul-betul menanam dlm hati sanubari dimana pesan revolusioner yang banyak digemari pecinta jalan “revolusi” bernama Che Guevara. seingat saya, saya kutip “keberanian membuat kita bertahan dalam situasi apapun, jika itu hilang niscaya tak ada gunanya”.

Karena itu tak ada kata lain selain pembebasan kemerdekaan bangsa Papua Barat,

Coretan ini saya buat di Jember ketika saya membuka diding FB melihat banyirnya foto kamrad Nyamuk Karunggu sedang mengarahkan muridnya, di salah satu kampung Nduga West Papua.

Salam kamrad.

Sy Nekiles Yigibalom

Berita Terkait

Top