MENJUMPAI DENGAN ABANG YUSRIL HENDRA  DI MATARAM 


 


Dokumen istimewa: Gambar Yordan Nyamuk Karunggu dan Bang Yusril Hendra 

“Anda mungkin bisa menunda, tapi waktu tidak akan menunggu” – Benjamin Franklin

“Diam adalah sumber dari kekuatan yang luar biasa.” – Lao Tzu

Pada tanggal 26 Maret 2023,Penulis selesai berdebat dengan para dosen-dosen yang terdiri dari Dospem 1 Dospem ll dan Dosen ketua tim mengkaji judul Skripsi dan judul skripsi Penulis yang ajukan di akademik fakultas hukum universitas Mataram adalah sebagai berikut. Pertama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat- Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Bukan Teroris.Kedua ada apa dengan gerakan rakyat Papua Barat terhadap pemerintah Indonesia? Dan ketiga adalah Hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis ini adalah judul skripsi aslinya.  Sehingga pihak akademik Fakultas Hukum universitas Mataram diarahkan untuk minta tanda tangan sama Prof. Galang selaku ketua tim mengkaji judul skripsi namun pada waktu itu Prof.Galang tidak terima dengan ketiga judul skripsi tersebut dan Prof. Galang sarankan ambil skripsi seputar isu Otsus,DOB atau Korupsi saja tapi saya menolak semua tawaran itu karena saya menganggap bahwa isu Otsus, DOB adalah turunan dari hak menentukan nasib sendiri yang diperjuangkan oleh rakyat Papua Barat dari tahun 1960-an sampai sekarang. Setelah dengar pernyataan saya maka Prof. Galang langsung tinggalkan ruang dan beliau menyatakan bahwa saya tidak bertanggung jawab judul skripsi semacam ini.

Akan tetapi saya tidak kecil hati dengan sikap seorang guru besar yang  keluar dari ruang dengan alasan judul skripsi tidak bermutu. Namun saya memiliki keyakinan dan keteguhan penuh bahwa saya adalah seorang intelektual bangsa Papua Barat dan saya adalah seorang akademisi mahasiswa Papua yang tidak perlu kecil hati apalagi menyerah dengan pernyataan seorang dosen yang tidak berdasarkan, dasar hukum objektif yang tidak jelas. Penulis bangga karena seorang guru besar tidak mampu membantah argumen penulis sehingga jalan alternatif untuk dosen tersebut adalah tinggalkan ruang dan pergi diam-diam. Sikap seorang guru besar yang tidak terhormat membuatku lebih berani untuk mempertaruhkan gagasan dan ide-ide saya untuk mempertahankan argumen saya demi bangsa dan tanah air saya west Papua dengan secara akademisi. 

Persoalkan skripsi tersebut sehingga dalam tiga hari saya debatkan judul skripsi saya dengan dosen-dosen Penulis di fakultas hukum universitas Mataram tawaran yang mereka tawarkan adalah seputar isu Otsus, DOB, Korupsi dan sebagainya tetapi Penulis tetap berdiri di atas keyakinan dan keteguhan bahwa apa yang saya ajukan adalah apa yang saya tahu?apa yang saya membicarakan adalah apa yang saya mengerti?apa yang saya perjuangkan adalah apa yang rakyat Papua Barat inginkan? Apa yang saya mau buat skripsi adalah persoalan ada di mata kita semua? Masa kita mau lari dari kenyataan dan fakta yang sedang berjalan telanjang didalam tubuh bangsa Indonesia? dan bapak/Ibu perlu mengetahui bahwa yang kerjakan skripsi ini adalah saya sendiri oleh sebab itu,saya sendiri yang menentukan judul skripsi merupakan apa yang saya sudah menguasai dan saya tahu tentang tanah air saya west Papua. Jadi,saya pikir bapak/Ibu tidak perlu menawarkan judul skripsi ini atau itu. Pertanyaan terakhir dari salah satu dosen adalah apakah Nyamuk Karunggu mau cepat selesai atau lama? Maaf Ibu, bagiku  tidak penting saya cepat selesai atau lama melainkan yang paling penting adalah saya menguji Indonesia dan menyampaikan kebenaran di dunia akademik Indonesia bahwa bangsa saya west Papua sedang tidak baik-baik saja dan saya memberikan Informasi yang benar bahwa rakyat Papua Barat mau merdeka sendiri bukan memberikan produk Kolonial Indonesia seperti Otsus dll.

Saya hormati dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Gatot  dan Ibu Dr.Roro yang menerima judul skripsi saya dan sekaligus membimbing saya.

Penulis lanjutkan cerita bertemu dengan Bang Yusril Hendra pada tanggal 26 Maret 2023 sekitar pukul 15.00 (Jam 3.00 sore) penulis selesai bertempur dengan para dosen-dosen saya lalu mau pulang saya ketemu dengan bang Yusril di belakang Fakultas Hukum Universitas Mataram,beliau sedang mengetik sesuatu di laptop dan saya langsung sapa selamat sore bang! Sore juga adik. Adik nama siapa? Saya Keiro bang.kenal Lusi ngak mahasiswa Papua? Kenal Bang, adik semester berapa? Semester 6 bang? omong-omong apakah ada anak-anak Papua yang  bisa ajak  podcast isu Papua? Boleh bang. Siapa itu? pasti ada bang. Setelah tukar nomor HP dan saya pulang. 

Angak lucu adalah saya pernah dengar nama Bang Yusril dan pernah lihat di konten bicara santai tapi saya pura-pura tidak kenal dan sebaliknya Bang Yusril juga sudah pernah dengar tentang saya namun seolah-olah kami berdua baru bertemu. Karena bang Yusril merupakan mantan presiden mahasiswa Universitas Mataram tahun 2018 dan beliau juga pernah menjabat sebagai ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Mataram dan beliau sekarang kuliah  S2 di fakultas hukum universitas Mataram. 

Pada tanggal 5 April 2023 ajak podcast pertama kali dengan judul “PILDUN U20 BATAL DI INDONESIA ALASAN ISRAEL MENJAJAH BANGSA PALESTINA DAN BAGAIMANA MASALAH PAPUA?  Podcast pertama kali ini  cukup demokratis sehingga dalam konten tersebut menjelaskan sejarah bangsa Papua Barat pencaplokan ke dalam Indonesia dengan melalui moncong senjata. Seperti kemerdekaan bangsa West Papua secara defacto dan dejure serta bangsa west Papua memiliki simbol-simbol kenegaraan seperti bendera kebangsaan adalah bintang Kejora.lagu kebangsaan adalah hai tanahku Papua.mata uang Papua adalah golder Papua.Lambang negara adalah Burung Mambruk.Penduduk negara adalah Sorong to Samarai dan simbol-simbol kenegaraan lainnya. Yang terjadi pada tanggal 1 Desember 1961 akan tetapi Indonesia menggagalkan kemerdekaan bangsa West Papua dengan maklumat Tri Komando Rakyat (Trikora) di alun-alun Yogyakarta utara yang dikeluarkan oleh Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 dengan isi  Trikora ada tiga yaitu; 

1.Bubarkan negara Papua boneka buatan kolonial Belanda

 2.Kibarkan sang merah putih di Irian Barat 3.Bersiaplah mobilisasi umum dan guna mempertahankan tanah air Indonesia.

Poin pertama merupakan penghinaan dan rasisme terhadap bangsa dan rakyat West Papua dengan sebutan negara boneka Papua dan disisi lain pendiri negara Republik Indonesia Ir.Soekarno telah mengakui kemerdekaan bangsa West Papua dengan sebutan sebuah Negara yang harus dibubarkan. 

Dalam konten tersebut juga menjelaskan sejarah Papua Barat yang digelapkan oleh Indonesia seperti perjanjian New York Agreement ilegal dan Roma agreement dibuat oleh pemerintah kolonial Indonesia, pemerintah Belanda dan pemerintah Amerika Serikat tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat sebagai subjek hukum internasional dua perjanjian terjadi pada tahun 1962. Aneksasi bangsa West Papua kedalam Indonesia dengan penuh ancaman yang terjadi pada tanggal 1 Mei 1963, perjanjian kontrak karya PT. Freeport Mcmoran di Papua yang sangat liar dan Ilegal yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat pada tanggal 7 April 1967 sebelum rakyat west Papua memilih Indonesia melalui penentuan pendapat rakyat (PEPERA) 1969 yang tidak demokratis dan cacat hukum internasional yang sampai sekarang bermasalah. Pemerintah Indonesia memaksakan rakyat Papua Barat untuk menerima Otsus Papua,DOB dan segala produk Kolonial Indonesia yang tidak pernah diminta oleh rakyat Papua Barat. 

Atas dasar ini rakyat Papua Barat berhak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokrasi yang menjamin dalam hukum Indonesia seperti UUD 1945 alinea pertama bahwa,bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Hak Sipil dan Politik yang dimana Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri secara ekonomi, sosial budaya dan politik tanpa campur tangan dari bangsa penjajah. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM juga mendukung hak kemerdekaan dll. Sedangkan dalam hukum Internasional dalam Resolusi Majelis Umum PBB nomor 1514 dan 1541 Tahun 1960 tentang memberikan kemerdekaan kepada bangsa-bangsa atau rakyat jajahannya. dan Piagam PBB dalam Pasal 73e juga merupakan jaminan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa jajahan. 

Oleh karena itu,penjajahan kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua merupakan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional dan hukum nasional Indonesia penjajahan Indonesia terhadap bangsa Papua Barat merupakan bertentangan dengan konstitusi Negara Republik Indonesia dan penjajahan Indonesia terhadap bangsa Papua Barat merupakan bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Oleh karena itu, bangsa Indonesia segera mengakui kemerdekaan bangsa West Papua demi hukum dan demi kemanusiaan. 

Selanjutnya kami mengajak para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/8m2VwX33OIM?si=qr1qv5dSpeD0toS 

Pada tanggal 16 April 2023 podcast kedua kali dengan judul “Negara Indonesia Rasisme Kepada Orang Papua”..konten kali ini penulis sampaikan bagaimana watak dan perilaku kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua dengan sebutan Monyet Papua, belum bisa,belum mampu dan lain-lain yang di produksi oleh kolonialisme Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua mulai dari tahun 1960-an sampai dengan sekarang. Rasisme Indonesia terhadap rakyat dan bangsa Papua Barat merupakan secara sistematis, terstruktur serta kolektif itu dibuktikan dengan pejabat negara,birokrasi kampus terang-terangan orang Papua di anggap Monyet. Sekian banyak Rasisme antara lain adalah pada tanggal 15-19 Agustus 2019 Rasisme terjadi di Surabaya, Malang, Makassar, Semarang, Yogyakarta dan sekitarnya terhadap mahasiswa Papua. Rasisme terhadap Obby Kogoya di Yogyakarta pada 2016 dan rektor universitas Mataram pernah melakukan kriminalisasi, intimidasi dan teror terhadap mahasiswa Papua pada tanggal 13-14 November 2022 dan lain-lain merupakan tindakan kolonial Indonesia secara sistematis dan terstruktur serta kolektif. Para pembaca bisa baca dalam buku kami yang berjudul melawan pembungkam ruang kebebasan akademik dan kriminalisasi mahasiswa Papua di Universitas Mataram 2023.

Dalam konten ini juga menjelaskan bagaimana kekejaman dan kejahatan kolonialisme Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua mulai dari 1961 sampai sekarang seperti Operasi Trikora, operasi teritorial, operasi tumpas, operasi Menangkwi, operasi Amungsa, operasi Mapenduma, operasi Pangkas, operasi koteka 1977 dan operasi militer Indonesia lainnya mengorbankan nyawa rakyat Papua Barat. Data terbaru yang terjadi di Nduga operasi militer Indonesia terhadap rakyat Nduga sehingga 257 orang meninggal dunia yang dilaporkan oleh tim kemanusiaan. Setidaknya 3 orang Pendeta yang dibunuh Militer Indonesia adalah Elisa Tabuni 2004,Gemin Nirigi mapenduma Kabupaten Nduga 2019 dan Pendeta Yeremia zanambani di Hitadipa Kabupaten Intan Jaya jaya ditembak mati oleh militer Indonesia pada 2020.

Pada tahun 2020-2021 kekerasan negara terhadap orang Papua, Menurut laporan Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan Komnas HAM menangani sekitar 480 kasus tindak kekerasan pada warga sipil di Papua dalam kurun waktu dua tahun. Kebanyakan kasus kekerasan tersebut dilaporkan berkaitan dengan kerja kepolisian.Termasuk militer Indonesia mutilasi 4 warga sipil Nduga di Timika pada tanggal 22 Agustus 2022.

Selanjutnya para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut kami tercantumkan di bawah ini;

https://youtu.be/8y1UdEg3mNI?si=IO-yMNxk20AsnrOs

Pada tanggal 14 Maret 2023  pertemuan tiga kali dengan judul “Orang Papua Tidak Takut Dengan Operasi Militer Indonesia Melainkan Orang Papua Akan Melawan Karena Ini Tanah Kami”. Podcast kali ini penulis mengajak kawan Naldo Wasiage untuk menyampaikan isi hati tentang tanah air yang sedang menjajah, menindas, menduduki, mendiami, merampok dan membunuh orang Asli Papua oleh pemerintah Indonesia melalui TNI-Polri. Penulis ingat betul bahwa Herman Wayei menyatakan bahwa “kami orang Papua di mata orang-orang Indonesia adalah hewan yang kapan saja berburu dan bunuh”.Sementara Bapak Filep Karma dalam buku yang berjudul “kitorang seakan setengah bintang ” disana Filep menjelaskan bahwa bangsa Indonesia belum mengakui orang Papua sebagai manusia. 

Kenyataan hidup ini telah mendidik orang Papua harus bangkit dari zona nyaman, bangun dari tidur nyenyak, keluar dari rasa ketakutan, budaya bisu dan budaya diam untuk melawan kolonialisme Indonesia dengan berani dan gagah demi harga diri dan martabat bangsa Papua Barat. Pramoedya Ananta Toer-Bumi Manusia mengingatkan kepada kami orang Papua bahwa ” ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan.Dua-duanya menjadi busuk dan dua-duanya sumber keonaran di muka bumi ini. Sementara Haris Azhar Pegiat HAM bahwa jangan takut mengapa? Karena ketika kita takut maka dibodoh-bodohi dan ketika kita bodoh maka diinjak-injak harkat dan martabat kami. 

Atas dasar penulis anjurkan kepada kawan-kawan mahasiswa Papua maupun rakyat Papua Barat kita semua punya kewajiban untuk menentang kejahatan kemanusiaan, kejahatan kriminalisasi rasial, represif dan kejahatan kepalsuan sejarah yang di bangun oleh kolonialisme Indonesia terhadap kami rakyat dan bangsa west Papua. 

Diskusi selengkapnya para pembaca silahkan nonton sendiri video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/76DwIJRu7qQ?si=Zmfig9Vmr7Ln3tB0

Pada tanggal 24 Mei 2024 pertemuan empat kali dengan judul “Orang Papua Sudah Pintar Tapi Negara Indonesia Tidak Pernah Menghargai Orang Papua Sebagai Manusia”.

Konten kali ini tidak jauh beda dengan konten-konten sebelumnya berkaitan dengan rasisme yang berbau kolonial yang terus dan sedang merendahkan kemampuan suatu bangsa yang dia menjajah. Dr.Neles Tebay menjelaskan mitos kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua ada dua macam yaitu yang pertama adalah mitos halus.Mitos halus ini adalah orang Papua belum bisa,belum mampu, bodoh,primitif, tukang mabok,Monyet dll merupakan mitos kolonial Indonesia yang paling halus. Dan dua mitos kolonial Kasar.Mitos kolonial Indonesia Kasar  adalah orang Papua teroris, makar, separatis, Kkb dan sejenisnya adalah mitos kolonial Indonesia kasar dalam buku yang berjudul kami bukan bangsa teroris, karya Bapak Dr.Socratez Sofyan Yoman. 

Mitos liar ini bukan hanya negara saja yang produksi tidak tapi melainkan organisasi berkarakter oportunisme, buntu isme, reformisme, oposisinisme dan gerakan pantat massa juga ikut serta dalam mitos liar ini dan  praktekan kepada rakyat dan bangsa west Papua misalnya watak mitos kolonial liar ini adalah Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Mataram yang seolah-olah orang Papua tidak punya  ide,gagasan, pikiran dan konsep kenegaraan merupakan pandangan liar dan mitos kasar di dalam tubuh gerakan kawan-kawan SMI Cabang Mataram. Mitos liar,pantat massa dan oportunisme ini bukan hanya di dalam pandangan dan didalam jiwa SMI melainkan misalnya Bem, DPM,GEBUG dan organisasi sejenisnya yang hanya mengandalkan massa.

Diskusi selengkapnya para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini;

https://youtu.be/w609xHjhS-Q?si=yidf-QbN65AhEi3w

Pada tanggal 4 Juni 2023 pertemuan kelima kali dengan judul “TPNPB-OPM KODAP lll NDUGAMA DI BAWAH PIMPINAN EGIANUS KOGOYA SANDARA PILOT SUSI AIR MEHRTENS ADALAH ALAT TAWAR MENAWAR UNTUK  PENGAKUAN KEMERDEKAAN BANGSA WEST PAPUA” oleh Indonesia sebagai negara kolonialismenya. Dalam konten tersebut penulis menjelaskan tujuan perjuangan rakyat Papua Barat yang mulai dari tahun 1960-an sampai sekarang masih eksis dan mempertahankan eksistensi perjuangan pembebasan nasional Papua Barat tersebut. Maka rakyat Papua Barat adalah tuan rumah dan pemilik bangsa Papua Barat sehingga apa saja yang mereka melakukan terhadap pemerintah Indonesia àdalah legal/sah karena kami rakyat Papua Barat tidak mungkin kalah sama perampok,pemerkosa,pembunuh dan penjajah Indonesia. 

Pernyataan Sikap yang di keluarkan oleh Egianus Kogoya pada tanggal 7 Februari 2023 bahwa ” saya tahan Pilot susi air Mehrtens bukan untuk minta uang,pembangunan, minuman,makanan dan lain-lain tidak melainkan saya sandara Pilot susi air Mehrtens adalah untuk kemerdekaan bangsa West Papua”. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi perlu mengetahui dan memahami pernyataan sikap tersebut agar persoalan Papua ini cepat diselesaikan. Sebetulnya pemerintah Indonesia telah dibantu oleh kawan-kawan lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tapi penguasa kolonial Indonesia masih raba-raba dan kebingungan di tengah jalan. LIPI menemukan empat akar persoalan Papua adalah sebagai berikut: 

1.Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia bermasalah. 

2.Kekerasan negara dan pelanggaran HAM terhadap bangsa dan rakyat West Papua yang belum pernah selesaikan. 

3.kriminalisasi dan marginalisasi rakyat Papua Barat di atas tanahnya sendiri. 

4.Kegagalan pembangunan yang meliputi pendidikan,kesehatan dan ekonomi. 

Penguasa kolonial Indonesia stop pura-pura buta,tuli dan tidak ada  mata padahal masalah Papua di depan matamu yaitu soal sejarah dan status politik Papua Barat yang dikuburkan oleh kolonialisme Indonesia demi kepentingan ekonomi, sosial, politik dan demi kepentingan pemusnahan rakyat Papua Barat. 

Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/-sU1syNj3OU?si=-hLY0EK8dQtVyd7Z

Pada tanggal 8 Juni 2023 pertemuan ke enam kali dengan judul “PANCASILA TIDAK ADA BAGI ORANG PAPUA” dalam konten ini penulis sampaikan realitas sosial yang dialami oleh orang Papua Pancasila tolak belakang dengan kebijakan dan praktik kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua. Sila kedua membicarakan persoalan kemanusiaan akan tetapi praktek Kolonialisme Indonesia membunuh dan membantai rakyat Papua Barat seperti binatang merupakan bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan serta melanggar Pancasila kedua tersebut. Sila ketiga persatuan Indonesia tapi kebijakan dan praktek kolonialisme Indonesia yang melakukan rasisme terhadap bangsa dan rakyat West Papua merupakan bertentangan dengan Sila ketiga maka Sila ketiga tidak ada artinya untuk orang Papua. Selanjutnya sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah benar juga karena keadilan hanya berpihak kepada orang-orang Indonesia dalam hal hukum, pemerintahan dan ruang demokrasi tidak ada bagi rakyat Papua Barat adalah bukti nyata bahwa sila kelima hanya berpihak kepada orang-orang Indonesia saja.

Kita bisa melihat bagaimana represif dan pembungkaman ruang demokrasi yang dibumihanguskan oleh militerisme Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua baik demonstrasi di kota maupun didunia kampus tentu saja dibungkam dan dibatasi oleh aparatur negara misalnya birokrasi kampus universitas Mataram yang selalu kriminalisasi rasial, represif, intimidasi dan teror terhadap mahasiswa Papua itu adalah tindakan kolonial. Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/w_mAaKVDKTo?si=kbTkkxSv96QZNiOZ

Pada tanggal 19 Juli 2023 pertemuan ke tujuh dengan judul “ORANG PAPUA BISA HIDUP TANPA NKRI ” dalam konten penulis mengulas kembali sejarah bangsa Papua Barat dan sejarah Indonesia berbeda jauh namun pada 1 Mei 1963 Indonesia melaksanakan pencaplokan bangsa Papua Barat kedalam Indonesia dengan penuh kekerasan negara kolonialisme Indonesia. Dr.Socratez Sofyan Yoman dengan tegas menyatakan bahwa kami bangsa Papua Barat tidak mengenal Indonesia, kami tidak tahu bendera merah putih, kami tidak kenal pancasila, kami tidak mengenal NKRI dan kami tidak mengenal bangsa Indonesia karena kami tidak ada hubungan sejarah maupun hubungan darah dengan nenek moyang bangsa Indonesia. Sedangkan Dr.George Junus Aditjondro menyatakan bahwa ” apa dasar Indonesia mengklaim dirinya Papua Barat adalah bagian dari wilayah NKRI ini perlu mempertanyakan?” dalam buku yang berjudul kebangsaan dan demokrasi pluralisme.

Bukti lain adalah sekitar 50.000 tahun lalu rakyat dan bangsa west Papua bisa hidup damai, tentram dan menghargai dan menghormati sesama suku bangsa yang ada di bumi Papua Barat akan tetapi ketika kolonialisme Indonesia masuk  di tanah Papua Barat untuk membuat kekacauan terhadap orang Papua, membuat konflik sini sana dengan kepentingan nasional NKRI dan bahkan pembunuhan orang Papua secara sewenang-wenang tanpa prosedur hukum yang jelas misalnya pembunuhan Musa Tabuni 2012,Theys eluay 2001 oleh Kopassus Indonesia, pembunuhan terhadap Kelyk kwalik 2009 oleh Kopassus Indonesia dan pembunuhan liar lain yang dipraktekkan oleh kolonialisme Indonesia terhadap rakyat dan bangsa west Papua merupakan kejahatan kemanusiaan, kejahatan agresif, kejahatan perang dan kejahatan pemusnahan ras Melanesia di West Papua. 

Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/HsxwJx3Hgyw?si=f0aiC8JENAk4iYIH

Pada tanggal 27 Juli 23 pertemuan ke delapan kali dengan judul “DEBAT PAPUA MERDEKA DAN PRO NKRI ” Pro Papua Barat merdeka penulis sendiri (Nyamuk Karunggu), Kontra Papua Barat Merdeka dengan pandangan Indonesia adalah kawan Kholis Mahasiswa Indonesia dan netral adalah bang Yusril Hendra selaku tuan rumah atau  pemilik kontennya.Dalam konten perdebatkan adalah kejahatan kemanusiaan Papua yang diamkan oleh Indonesia dan juga mengulas kembali sejarah bangsa Papua Barat seperti sebelumnya.

Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini: https://youtu.be/_H-bE1z0pSs?si=4cl7_WO3HuNTF0Gh

Pada tanggal 6 Agustus 2023 pertemuan ke sembilan dengan judul “NEGARA INDONESIA SEGERA HENTIKAN STIGMA BURUK KEPADA ORANG PAPUA BARAT ” konten kali ini kembali menjelaskan bagaimana kolonialisme Indonesia kriminalisasi, intimidasi, teror dan penangkapan terhadap rakyat dan bangsa west Papua sewenang-wenang dan rasisme juga memproduksi dan terapkan kepada orang Papua oleh penguasa kolonial Indonesia dan juga birokrasi kampus misalnya Universitas Mataram yang terus dan sedang kriminalisasi rasial terhadap mahasiswa Papua di Universitas Mataram. Misalnya pada tanggal 13-14 November 2022 Rektor universitas Mataram kriminalisasi Mahasiswa Papua dan menangkap mahasiswa Papua dan Solidaritas Indonesia. Pada tanggal 1 Agustus birokrasi kampus dan security Unram Kriminalisasi, intimidasi dan teror terhadap mahasiswa Papua pasca Yudisium Fakultas Hukum Universitas Mataram ini adalah fakta, ini adalah realitas.ini adalah terbukti. 

Persis apa yang dikatakan oleh Angela Davis menyatakan bahwa” Rasisme adalah bentuk penindasan yang menghambat kemerdekaan berpikir dan kesetaraan umat manusia”.

Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:

https://youtu.be/9GV26tixt3k?si=nnZw7nSXSoU91H3a

Pada tanggal 16 Agustus 2023 dengan pertemuan ke sepuluh dengan judul ” DEBAT PAPUA MERDEKA DAN INDONESIA MERDEKA ” dalam hal ini Indonesia diwakili oleh Bung Kobel dengan visinya Nasionalisme Indonesia untuk Nasionasionalisai seluruh perusahaan. Netral adalah bang Yusril Hendra sebagai mediator dan penulis sendiri adalah hadir mewakili bagi kaum tertindas, kaum tak bersuara, kaum tak berani dan kami teraniaya yang ada di bangsa saya west Papua dan sekaligus mendukung hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis agar Indonesia damai,Papua damai dan dunia damai. 

Akan tetapi dalam perdebatan ini menunjukkan sikap dan watak Bung  Kobel dan pengikutnya Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Mataram adalah konsep kesukaan, ala Jerman dan gerakan pantat massa, oportunisme, buntu isme dan reformis. Memalukan lagi adalah seolah-olah Kobel sudah tahu tujuan dan konsep perjuangan rakyat Papua Barat lalu dibilang rakyat Papua Barat tidak punya program perjuangan dalam ekonomi, sosial budaya dan politik. Disisi lain pandangan kawan-kawan SMI Cabang Mataram masih seputar pendidikan gratis, kesehatan gratis, ekonomi melimpah dan pembangunan merata tapi sayangnya gerakan tersebut adalah gerakan pantat massa itu dibuktikan bahwa ketika Bem Universitas Mataram, UIN atau Ummat konsolidasi lalu muncul kemudian merebut kordum, Korlap dan lain-lain ini merupakan gerakan pantat massa dan tidak punya konsep perjuangan yang  jelas walaupun slogan salam persatuan dan kemerdekaan 100%.Setelah video tersebut di update pengikut bung Kobel lebih-lebih saudara Angga mantan Ketua SMI Cabang Mataram mendukung dan membenarkan argumen bung kobel miring dan kekacauan dan menyerang perseorangan dengan mahasiswa Papua tidak punya kapasitas, kurang referensi merupakan watak kolonial yang terus dan sedang merendahkan kemampuan seseorang dan meremehkan kapasitas seseorang. Kami ambil kesimpulan bahwa bung kobel,Angga dan pengikutnya adalah orang-orang pantat massa, revisionisme dan buntuisme kenapa? Karena tidak ada gerakan jelas tapi mengklaim diri sini sana mengaku diri aktivitas, oposisi dan sebagainya tapi kajiannya seputar nasionalisme sempit Indonesia, pendidikan dan sejenisnya. 

Salah satu warga komentar dalam konten tersebut seperti ini moderator tidak netral karena keiro masih bicara tapi dibatasi. Kemudian ditanggapi oleh bung Kobel dengan nama akunnya adalah jalan sunyi dengan tertulis konsep debat itu bung!. Lalu saya tanggapi sebagai berikut:​@JalanSunyi-px5mp  konsep debat dalam ilmiah atau debat usir? Debat itu ada  aturan menghargai orang yang  bicara setelah itu lalu membantah dengan argumen kalau mau model semacam ini adalah  sentimentil dan belum dewasa dalam perdebatan secara ilmiah dan secara intelektual. Tidak balas oleh bung Kobel. 

Setiap warga sipil yang menyerang Kobel argumennya ketokohan dan kekaburan di balas oleh pengikut adalah Angga mantan Ketua SMI Cabang Mataram salah satunya sebagai berikut ini. Syarifudin komentar menyerang Kobel bahwa kobel tidak paham dalam diskusi dan tidak paham aturan debat.Lalu ditanggapi Oleh Angga berwatak Rasis dan sentimental sebagai berikut; tidak kasih kesempatan rasis dan debat asal-asal bicara seperti Keiro ini.  Lalu Penulis menggapi  seperti ini kita harus maklumi karena Bung Kobel dan Angga kau baru belajar debat sehingga muncul debat usir yang  sentimental tanpa debat ilmiah dan bermartabat. Dan Angga ini rupanya ada iri hati tersendiri, atau ada dendam tersendiri terhadap mahasiswa Papua karena dia gagal dalam gerakan organisasi dan juga gagal dalam perjuangannya karena Angga ini sering hadir dalam konsolidasi Bem-Bem di Mataram dan menolak isu-isu Papua yang terdiri dari isu pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, pelanggaran HAM dan Hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis. Pikiran dan sikap semacam ini adalah watak anti solidaritas, anti kemanusiaan, anti demokrasi dan anti kesamaan derajat. Itu dibuktikan dengan di dalam tubuh gerakan kawan-kawan SMI Cabang Mataram masih gunakan adalah bahasa birokrasi bahasa birokrasi ini adalah Abang, kanda, Dinda dan ketokohan itu merupakan gerakan borjuis nasional yang paling berbahaya bagi gerakan kiri lain yang ada di Indonesia. 

Para pembaca silahkan nonton video podcast tersebut dibawah ini:https://youtu.be/fCedAES4kZ4?si=GVkd8fVh5L4WeVzE

Ini adalah kisah berjumpai  dengan bang Yusril Hendra di universitas Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Indonesia. 

Mataram,……2023

Berita Terkait

Top