POST: KAMRAD COMUNE


Ketika pagi hari seorang mahasiswa tua bangka yang lahir dibawah Kolonialisme Indonesia, Setiap hari waktu dia ke pasar ia bertanya “Mama, Apakah yang dilakukan Aparat dengan Senjata lengkap dipasar” Tanyanya. “Lain waktu mama akan cerita nakal” Ketika masa kecil dia ke Gereja Tentara masuk tanpa melepas Alas kaki, sambil teriak “Bubar, bubar, bubar” Kata-kata itu begitu kasar seperti tulisan filep karma *Seakan kito rang setengah binatang* Lalu bertanya “Mama Kenapa kita susah beribadah mama”.

Waktu berlalu dibawah Kolonialisme pemuda itu merantau ke luar tanah West Papua, Saat dia sampai di Rantauan daerahnya dilanda Operasi Militer besar-besaran, Saat dia tiba di Bali ia melihat di pasar tidak ada tentara yang buas seakan-akan mau membunuh, di Gereja tidak ada Tentara yang masuk dengan sepatu serta senjata lengkap.

Ada hal yang terus melekat yang menjadi Anak kandung dari Kolonialisme Indonesia, yakni Rasisme yang mendarah daging.

Bacaan membongkar pertanyaan-pertanyaan masa kecilnya, Hingga sejarah yang sepotong-sepotong tentang West Papua yang menjadi buah bibir rakyat waktu dia di Tanah Air.

Aku menghampiri nya

Aku : Yordan Apa yang sedang kau lakukan?
Yoro : Demonstrasi ditanah Air West Papua lagi-lagi ditembak Aparat Com.
Aku : Bajingan Memang, Di Kabupaten Bima juga kemarin Tentara dan Polisi memukul Massa aksi yang menuntut perbaikan infrastruktur.
Yoro: Di Papua tidak seperti di Bima Com, di Papua lebih ganas Aparatnya, Pakai peluru tajam bukan peluru karet.

Akupun mengajak pergi makan di Warung Surga dekat Kampus, Tanpa Kopi dan Rokok karena Kami berdua dilingkaran kolektif yang masih anak manja. Aku tidak merokok karena biar dikira mirip DN, Sementara @Yoro tidak merokok karena ia bercita-cita ingin jadi Pendeta.

Setelah Makan ia berkata “Kalau belum di represif orang banyak memuji TNI/POLRI, Giliran di represif bara sadar watak asli Aparat”.

Berita Terkait

Top