KEAMANAN MAHASISWA PAPUA  STUDI KOTA MATARAM, PROVINSI NTB TIDAK AMAN dan TERANCAM OLEH BIROKRASI KAMPUS UNIVERSITAS MATARAM dan Polda NTB 


 

Kenyamanan dan keamanan mahasiswa papua universitas mataram terancam oleh birokrasi kampus dan meliterisme indonesia. (,unram,16/11/2022).

“Mengajar, bukan lagi untuk mengajarkan apa yang diyakini, melainkan untuk menanam keyakinan-keyakinan serta kebodohan-kebodohan yang dipandang berguna oleh mereka yang memerintahkannya”(Bertrand Russell).

Ketakutan kami untuk mengatakan kebenaranlah yang menyebabkan selama bertahun-tahun kita memberikan kekuatan kesempatan dan ruang kepada para si penindas untuk menindas kita (ibu shirin ebadi nobel perdamaian iran)

Universitas Mataram beralih ditangan militer indonesia (polda Ntb) Universitas Mataram bukan kampus melainkan unram telah dijadikan sebagai Markas militer indonesia, Markas intelijen, Markas BIN BAIS, Markas reaksioner, Markas represif dan Markas fasis untuk mengintimidasi,meneror mengkriminalisasi dan menangkap mahasiswa papua di dalam kampus universitas mataram itu nyata dan benar adanya.

Universitas Mataram bukan lagi tempat untuk menimba ilmu dan mengembangkan gagasan, ide-ide dan pikiran-pikiran melainkan universitas mataram dijadikan sebagai tempat latihan tembak menembak dan tempat untuk mempraktekan kejahatan fasisme, kejahatan represif, kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik, kejahatan perampasan buku-buku, almamater, toa dan bahkan tempat untuk melampiaskan kemarahan, kebencian rasisme hanya karena berbeda Ras. Semua ini terjadi karena rektor universitas mataram pun turut serta dalam mempraktekan kriminalisasi, rasisme dan fasisme terhadap mahasiswa Papua. Kami mahasiswa papua bingung dengan Cara-cara sekelas Rektor yang kelakuan dan wataknya dipenuhi dengan kekerasan fasisme, kekerasan kriminalisasi dan kejahatan penangkapan terhadap mahasiswa Papua dan Solidaritas indonesia dengan tanpa  alasan yang tidak jelas dan tidak logis.

Mahasiswa Papua di Universitas Mataram benar-benar tidak aman dan tidak kondusif karena kekerasan kriminalisasi, intimidasi, teror, represif dan rasisme berjalan telanjang didalam tubuh rektor universitas mataram itu sendiri. buktinya intelijen polda Ntb, TNI-Polri dan preman memperbolehkan masuk dalam ruang rektorat dengan menggunakan celana pendek, pake kaos, pake sendal dan sebagainya. Sedangkan mahasiswa yang  memakai kaos dianggap tidak sopan tidak punya etika dan dianggap berbahaya bagi nyawa para rektor dan birokrasi kampus universitas mataram.watak kolonialisme indonesia akan tumbuh dan subur didalam tubuh universitas mataram dan yang rawat, melindungi, memelihara dan mempraktekan kriminalisasi, rasisme, represif, fasisme, intimidasi dan pemukulan adalah rektor Unram mataram itu sendiri. 

Kami mahasiswa papua tidak aman dan terancam keselamatan nyawa kami,tidak nyaman aktivitas perkuliahan kami dan tidak nyaman di dalam universitas mataram karena kami selalu di intimidasi, diteror,diawasi, dikontrol dan bahkan kami ditangkap periksa identitas kami padahal mereka (birokrasi) sudah tahu bahwa kami kuliah di unram tapi kenapa setiap hari periksa identitas privasi kami selalu ditelanjangkan dengan ancaman dan tindakan brutalitas satpam, birokrasi kampus kemahasiswaan dan intelijen polda NTB binaan rektor Unram??.apakah kami mahasiswa papua bukan bagian dari indonesia? atau mahasiswa papua adalah kriminal dan penjahat yang harus dijaga ketat, dikontrol dan diawasi setiap aktivitas perkuliahan.

Kami mahasiswa papua yang studi universitas mataram tidak aman dan darurat kenyamanan dan keamanan bagi kami  mahasiswa papua universitas mataram tersebut. Karena kejahatan rasisme dan diskriminasi ini bukan baru kali ini yang dilakukan oleh Rektor universitas mataram bersama intelijen polda Ntb melainkan atas kejahatan kriminalisasi, kejahatan fasisme, kejahatan represif dan kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik terhadap mahasiswa papua ini berulang-ulang. Kami sering dilarang diskusi dan lapak baca bukan hanya dilarang tapi melancarkan aksi fasisme,represif, rasisme dan kriminalisasinya terhadap mahasiswa Papua atas semua didukung dan dilegalkan oleh rektor universitas mataram dan jajarannya untuk kriminalisasi dan teror terhadap mahasiswa Papua. 

Ketika mahasiswa papua dua orang atau tiga duduk kantin dan makan pun selalu dijaga ketat oleh security kampus, intelijen polda NTB dan preman reaksioner kampus binaan rektor Unram.kami keluar masuk kampus dikawal ketat diperiksa ketat oleh intelijen polda NTB yang pura-pura menjadi security kampus kami tahu semua itu.pada tanggal 16 november 2022 security kampus mempermasalahkan pakaian yang digunakan oleh Kawan Nyamuk dan kawan naldo dengan alasan sosialisasi tapi kenapa orang-orang lain masuk kampus celana pendek dan baju kaos dibiarkan.disinilah terjadi rasisme, kriminalisasi, intimidasi, teror dan pembunuhan karakter mahasiswa papua dengan Cara-cara kejahatan kemanusiaan yang tidak beradab. 

Kriminalisasi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua berjalan telanjang didalam tubuh universitas mataram yang diproduksi dan diterapkan oleh rektor universitas mataram bersama birokrasi-birokrasi kampus lainnya.sehingga kriminalisasi dan rasisme ini terjadi di dalam ruang kelas ketika mahasiswa papua mau menyampaikan pendapat atau pertanyaan selalu dibatasi dan dilarang oleh dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa dungu dan bodoh itu sendiri (pengakuan dari kawan nyamuk Karunggu).buku-buku kami juga dirampas, disitu oleh polda NTB di dalam kampus universitas mataram bulan februari lalu.

Dalam keadaan seperti itu perasaan tertekan boleh saja ada, tapi tidak dapat sampai menghentikan perjuangan mereka. Banyak tenaga yang terkuras oleh teror dan intimidasi. Lebih sering pula mereka merasakan dampak ketakutannya. Hanya bagi AMP KK Lombok dan KSI itu semua merupakam konsekuensi dalam perjuangan. Sikap mereka persis lukisan indah Maya Angelou: siapa yang berjalan menuju cahaya tidak usah takut dengan kegelapan yang mengepungnya:

“Seseorang tidak harus dilahirkan dengan keberanian, tetapi dia dilahirkan dengan potensi. Tanpa keberanian, kita tidak bisa mempraktikkan kebajikan dengan konsistensi. Kita tidak bisa baik, benar, penyayang, murah hati, atau jujur.”Dengan keyakinan seperti itulah mereka kembali berdiri melaksanakan diskusi terbuka. Temanya bukan sekedar sesuai apa yang AMP KK Lombok dan KSI alami selama ini, tapi juga menggugat aparatus represif negara: Kenapa TNI-Polri Meneror, Mengintimidasi, dan Represi Mahasiswa Papua dan Aktivis Pro-Demokrasi? Rabu (14/4) pukul 10.00 Wita, kegiatan direncanakan di Unram.(Jum’at (14/5/21) tahun lalu.

Kawan-kawan kami mahasiswa papua tidak nyaman di universitas mataram mungkin karena mahasiswa papua adalah beda bangsa dan negara. Kami sadar dan kami tahu bahwa masa depan bangsa kami,masa depan anak cucu kami dan masa depan kehidupan kami tidak ada jaminan didalam negara kolonialisme indonesia karena ketika mahasiswa papua mengalami kriminalisasi dan rasisme orang-orang indonesia tidak ada yang membelah orang papua jangankan orang-orangnya tapi lembaga independen seperti media Kampus dan Lembaga bantuan hukum saja masih pilih kasih,membeda-bedakan tembang pilih dan sebagainya. atas dasar itu,masa depan bangsa west papua tidak ada jaminan didalam negara kolonialisme, militerisme dan fasisme indonesia ini.

Setidaknya,jika kita mau bela orang papua kita tidak perlu menjadi orang papua tapi  cukup kita menjadi manusia yang berguna untuk orang papua.jika kita mau membela orang Palestina kita tidak perlu menjadi orang Palestina tapi cukup kita menjadi manusia yang berguna untuk orang Palestina.jika kita mau membela orang islam kita tidak perlu menjadi orang islam tapi cukup kita menjadi manusia yang berguna untuk orang islam dan seterusnya. Hakikat manusia yang sesungguhnya yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tanpa paksaan dan tanpa suruhan karena ini menyangkut tentang kemanusiaan dan tentang solidaritas keselamatan umat manusia. Persis apa yang dikatakan oleh Uskup Leo tim-tim, dengan alasan apapun membela kemanusiaan harus ditegakkan karena harga manusia lebih tinggi daripada negara.Tidak ada jalan yang mudah untuk mencapai kemerdekaan di mana pun. Banyak dari kita berkali-kali harus melewati lembah dengan bayangan kematian sebelum mencapai puncak cita-cita. (Nelson Mandela)

Jangan pernah menyerah dan mundur dengan kejahatan fasisme, kejahatan represif, kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik, kejahatan kriminalisasi dan kejahatan penangkapan melainkan kita harus bangkit dan lawan atas segala kejahatan itu.karena ketika kami mundur ataupun kami menyerah pada atas kejahatan itu,maka kami memberikan kesempatan, kekuatan dan ruang kepada para penindas, para fasisme dan para kriminalisasi untuk menindas kami.api perlawanan tetap akan membakar dan nyalakan dimana-mana untuk merebut hak-hak Kebebasan dan untuk menegakkan harkat dan martabat kami yang direndahkan dan diinjak-injak oleh kolonial Indonesia. “Apa saja yang membakar dan membuat orang lain terbakar adalah berguna” (Gibran).

Dengan realitas sosial ini kami sependapat atau sepakat dengan perkataan Haris Azhar Pegiat HAM bahwa “Pemerintah membuat peraturan, Undang-Undang dan Hukum adalah untuk mengawasi, mengontrol, memantau dan menghukum masyarakat” lebih lanjut Haris Azhar peraturan, UU dan Hukum Indonesia adalah tempat penjara untuk rakyat tertindas, terhisap dan termiskin.

Unram telah berubah menjadi sekedar instrumen tatanan kelas borjuasi dan alat representasi kekerasan negara. Pendidikan sepenuhnya dijiwai semangat kasta borjuis, kebijakan pemerintah hari-hari ini seolah membicarakan padahal pendidikan telah dikotori oleh hasrat politik borjuasi, hasrat  kriminalisasi dan rasisme juga telah digambarkan oleh Plato terkait hubungan politik borjuasi dengan pendidikan. Plato menjelaskan bahwa setiap budaya terus berupaya mempertahankan kontrol atas pendidikan di tangan kelompok-kelompok elit yang secara terus-menerus menguasai politik, ekonomi, agama, dan pendidikan. Artinya, bahwa dunia pendidikan tidak bisa lepas dari politik, karena untuk mempertahankan kontrol pendidikan sendiri dibutuhkan sebuah keputusan politik dari negara. Tidak hanya itu saja, pendidikan juga dapat menjadi sebuah alat kontrol negara dalam mempertahankan kekuasaannya dan membangun citranya.

Fungsi negara ada tiga, yaitu: akumulasi, legitimasi dan represif.

1).Akumulasi merupakan pengumpulan; penimbunan; penghimpunan modal.”

Tambahan periodik suatu dana dari bunga atau tambahan lain pada tambahan laba neto pada laba yang ditahan.” Negara ibaratnya sebuah bank yang mengumpulkan kekayaan alam dari hasil perampokan dari rakyat entah itu, hasil perampokan dari pajak mobil,motor,lampu listrik dan bahkan hasil perampokan dari pertambangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan lahan atas nama kepentingan persama atau kepentingan ini disebut dengan kapitalisme hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan orang lain.

2).legistimasi merupakan institusi yang mendukung,mengesahkan dan membenarkan segala kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Indonesia. Legistimasi ini terdiri dari partai-partai,tentara nasional indonesia (TNI), kepolisian republik indonesia (kapolri),intelijen indonesia (II),Badan intelijen negara (BIN),Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN),badan intelijen strategis(BAIS), pengacara, dosen-dosen dan organisasi reaksioner seperti GMKI, PIB dan preman binaan rektor universitas mataram yang mengintimidasi dan mengancam mahasiswa papua pada tanggal 13 november 2022.Legistimasi merupakan lembaga-lembaga yang kami sebut diatas tersebut sedang dan terus mendukung kekerasan negara kolonialisme indonesia untuk melegalkan kejahatan kemanusiaan, kejahatan kriminalisasi dan rasisme, kejahatan fasisme, kejahatan represif dan kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik dengan dalih-dalih menjaga nama baik kampus dan seterusnya.yang ditunjukkan dan ditontonkan oleh rektor universitas mataram terhadap mahasiswa Papua. 

3).Represif, represif merupakan pembungkaman ruang kebebasan akademik pemukulan, penangkapan, penahanan, pemenjaraan, kriminalisasi rasisme dan melarang diskusi dan lapak baca, melarang berorganisasi, berekspresi,berkumpul dan bahkan membatasi gagasan-gagasan,ide-ide dan pikiran-pikiran yang dimiliki oleh mahasiswa dan model represif didalam dunia kampus ini merupakan pembunuhan psikologis dan karakter intelektualitas mahasiswa itu sendiri.

Pendidikan Indonesia model beginilah yang dikritik oleh Eko Prasetyo dalam buku yang berjudul bangkitah gerakan mahasiswa dan bergeraklah! mahasiswa agar mahasiswa itu harus pikiran terbuka,pisau analisis yang tajam dan memberikan nalar kritis yang tajam pula dan Eko Prasetyo mengatakan bahwa kampus atau kelas bukanlah tempat orang berdoa yang harus diam mendengar dan pulang melainkan kampus atau ruang kelas adalah tempat pertarungan gagasan- gagasan dan ide-ide yang dimiliki oleh mahasiswa dan mahasiswi.

Universitas mataram terapkan dan mempraktekan dalam tubuh birokrasi kampus adalah neomeliterisme, neoliberalisme, neokapitalisme, fasisme, represif, rasisme dan diskriminasi terhadap mahasiswa kelas bermodal dan mahasiswa tidak bermodal lebih-lebih terhadap mahasiswa West Papua yang sedang studi universitas mataram. dengan membatasi diskusi-diskusi, lapak baca dan menyampaikan pendapat atau gagasan-gagasan di ruang bebas maupun didalam ruang kelas.atas dasar itulah kita terus dan sedang berusaha membukakan lapak baca dan diskusi serta pembagian buku-buku gratis yang berjudul pemekaran dan kolonialisme modern di papua karya Bapak Dr.Socratez Sofyan Yoman.

Buktinya pada tanggal 13-14 november 2022 rektor universitas mataram dan kemahasiswaan melarang diskusi dan kumpul-kumpul hanya menyarankan belajar di kost dan di kelas saja jangan belajar diluar kelas dan kost.bagaimana watak dan perilaku rektor Unram dan kemahasiswaan apakah model semacam ini bukan tindakan kriminalisasi, intimidasi, teror dan pembunuhan karakter intelektualitas mahasiswa papua di mataram?? Ini jelas pembunuhan karakter berpikir mahasiswa papua, pembunuhan psikologis dan mental,maka kami tidak pernah membiarkan kejahatan kemanusiaan yang melampaui batas kemanusiaan ini.

Rektor universitas mataram segera klarifikasi dan minta maaf kepada mahasiswa papua apa motif dan alasan intimidasi, teror, represif, kriminalisasi dan menangkap mahasiswa papua dan solidaritas indonesia yang menentang kejahatan rasisme, kejahatan fasisme, kejahatan represif, kejahatan pembungkaman ruang kebebasan akademik.menurut kami rektor universitas mataram telah melanggar kode etik sebagai seorang pejabat tinggi universitas mataram, melanggar dan memperkosa uu no.12 tahun.2012 tentang kebebasan akademik dan otomon kampus dan melanggar uu no.9 tahun 1998 tentang kemerdekaan berpendapat dimuka umum dan melawan konstitusi republik indonesia UUD 1945.atas dasar rektor universitas mataram segera bertanggung jawab atas kejahatan kebiadabannya dan segera klarifikasi apa motif dibalik kriminalisasi dan teror terhadap mahasiswa Papua di mataram. 

Rasialis lain adalah kawan-kawan solidaritas Indonesia yang bergaul dengan mahasiswa papua diintimidasi dan dilarang bergaul dengan mahasiswa papua untuk apa kalian berteman dengan mahasiswa papua?? Apa untungnya kalian berteman dengan mahasiswa papua yang mendukung separatis?? Universitas Mataram benar rasisme dan fasisme sangat telanjang ditubuh universitas mataram itu sendiri dan yang produksi rasisme dan diskriminasi adalah para birokrasi kampus itu pula.

Pernyataan sikap kepada Rektor universitas mataram Bapak Prof. Ir. Bambang Hari Kusumo, M.Agr.St., Ph.D.,bahwa;

1.segera klarifikasi apa motifnya dibalik kejahatan fasisme, kejahatan represif, kejahatan teror dan kejahatan penangkapan terhadap mahasiswa Papua dan Solidaritas indonesia.

2.Rektor universitas mataram segara bertanggung jawab atas kriminalisasi,rasisme, represif, teror dan intimidasi terhadap mahasiswa Papua.

3.Rektor universitas mataram hentikan kerjasama dengan polda Ntb untuk intimidasi, kriminalisasi dan teror terhadap mahasiswa Papua dan Solidaritas indonesia di dalam kampus universitas mataram. 

4.Segera tarik mundur polda Ntb, intelijen dan preman dari unram karena ancaman bagi nyawa mahasiswa papua. 

5.Rektor universitas mataram juga segera bertanggung jawab atas Sitanya almamater, toa,poster dan spanduk. 

6.Jika Rektor unram tidak memenuhi pernyataan sikap poin 1-5,maka kami akan melawan aksi besar-besaran direktorat universitas mataram. 

7.Segera memberikan hak menentukan nasib sendiri bangsa west papua sebagai solusi demokratis agar indonesia damai papua damai dan dunia damai.

Demikian Pernyataan Sikap ini, kami buat dan kami sampaikan kepada Rektor universitas mataram agar Rektor dapat memperhatikan dan melaksanakannya.

Tulisan ini, sengaja dibuat untuk sebagai bentuk kampanye, agitasi dan propaganda atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Rektor universitas mataram bersama TNI-Polri dan intelijen polda NTB (AGIPOS KK-Lombok).

Medan juang, 16 november 2022

Panjang umur hal-hal baik!

Melawan Pembungkaman Ruang Kebebasan Akademik!!

Melawan fasisme dan kriminalisasi!.

 

 

Berita Terkait

Top