Egianus Kogeya: TPNPB-OPM KODAP III Darakma-Ndugama Menuntut Papua Merdeka dan Pemda Nduga Menawar Uang Darah NKRI 


 

“Pertempuran tidak dimenangi oleh pengecut. – Amber R. Duell

 “Kamu ditempatkan di bumi ini untuk menciptakan, bukan untuk bersaing.”  Robert Anthony

Kapan pun kita ingin memerangi musuh kita, pertama dan terutama adalah kita harus mulai dengan berbagai cara untuk mengalahkan musuh nya bukan kita menunggu,bukan kita berdiam dan bukan kita bicara sini sana tanpa tindakan untuk melawan penjajah kolonial Indonesia di depan mata kita,didepan rumah kita,didepan tanah kita,didepan hutan kita,didepan kursi kita,didepan mimbar gereja kita. Tidak kawan!

Ko stop! jual saya sini sana.ko bicara saya  sini sana,ko iris saya disini sana,ko ceritakan saya sini sana. Kawan ko tidak sadarkah  kapan ko bisa berdiri seperti saya yang sedang melawan penjajah Indonesia? Ko kapan baru angkat senjata untuk  perang dengan meliterisme Indonesia? Umurmu sudah berapa kawan? Ko pikir ko masih kecilkah  padahal Usiamu  sudah 20-30 tahun enak menikmati kencing dan tahi penguasa kolonial Indonesia di kota sambil cerita tentang saya sepanjang hari? Kawan ko bosan kah tidak ceritakan orang yang berjuang nasibmu di medan tempuran berhari-hari atau apakah kawan dapat keuntungan dari ceritakan tentang saya di masyarakat atau pemerintahmu? Stoplah! Kawan saya yakin ko tidak akan pernah berdiri diposisi saya.

Manusia memiliki hati nurani kemanusiaannya dan senjata adalah tanpa memiliki hati nurani kemanusiaannya.sehingga manusia bisa kontrol senjata yang tanpa memiliki hati nurani tersebut. Apapun perang atau tidak perang dan tembak atau tidak tembak di tangan manusia karena senjata adalah alat benda tidak bisa bergerak, tidak bisa  berbicara dan tidak bisa  bertindak sendiri.

Suara-suara di bungkam, di tolak,tidak di dengar dan semua aspirasi diabaikan maka senjatalah yang akan berbicara (wiji thukul). pemerintah kolonial Indonesia jangan salahkan orang Papua ketika orang Papua angkat senjata dan melawanmu.karena mungkin barangkali kau pemerintah kolonial Indonesia selalu membungkam suara-suara orang Papua Setiap pergantian presiden atau rezimmu? Siapa tahu kau  pemerintah kolonial Indonesia setiap keinginan dan kemauan orang Papua di tolak,tidak di dengar,tidak diterima dan abaikan semua aspirasi orang Papua demi atas kekuasaan dan  atas nama ketidakadilanmu?? 

Cobalah kau pemerintah kolonial Indonesia introspeksi diri,koreksi diri dan evaluasi dirimu apa yang salah denganmu terhadap bangsa dan rakyat West Papua dari tahun ke-tahun dan dari rezim ke rezim? Jangan  sampai kau pemerintah kolonial Indonesia merupakan senjata yang  paling kejam dan jahat di dalam Negara ini? atau barangkali pemerintah kolonial Indonesia menjadi senjata yang tanpa memiliki Roh, napas dan hati nurani kemanusiaannya dikolong langit NKRI ini?

Kami tahu kegelisahan, kesakitan,penderitaan dan tangkisanmu bangsa Papua Barat Sorong sampai Samarai yang terus dan sedang menderita dibawah cengkraman hegemoni kolonialisme Indonesia terhadap atas bangsa dan negerimu sendiri. Kejahatan Kolonialisme Indonesia yang paling nyata di atas tanah dan negerimu sendiri adalah kau orang asli Papua di cap sebagai seperatis, teroris, Kkb dan segala macam stigma-stigma merupakan bahasa dan kehadiran Kolonialisme Indonesia nyata dan terbukti. Kejahatan Kolonialisme Indonesia dipraktekan diatas bangsa dan tanah airmu sendiri merupakan benar-benar kolonial itu nyata dan benar  adanya itu telah dibuktikan dengan berbagai operasi militer Kolonial Indonesia ilegal yang telah dan sedang terjadi di West Papua mulai dari operasi Trikora atau tri Komando rakyat dialun-alun Yogyakarta, 19 Desember 1961 sampai dengan operasi lucu yang bernama operasi damai canter 2023.

Kehadiran kolonial Indonesia diatas bangsa west Papua merupakan Kehadiran kebohongan, Kehadiran kejahatan kemanusiaan, Kehadiran ketidakadilan, Kehadiran manipulasi sejarah kebenaran, Kehadiran penipuan, Kehadiran pembunuhan dan Kehadiran mutilasi merupakan karakter dan kepribadian Kolonialisme Indonesia itu sendiri. Karena bagaimanapun juga  kolonial merupakan tanpa mengenal nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kebebasan, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai penghormatan terhadap bangsa lain.

Kedudukan dan keberadaan kolonial Indonesia di atas bangsa west Papua tidak ada legitimasi hukum dan dukungan dari rakyat dan bangsa Papua Barat melainkan yang ada adalah legitimasi kebohongan, legitimasi kejahatan kemanusiaan, legitimasi kepalsuan sejarah, legitimasi kekerasan, legitimasi operasi militer dan legitimasi mutilasi rakyat dan bangsa Papua Barat (Dr.Socratez Sofyan Yoman), kami bukan bangsa teroris.

Sebuah bangsa tidak bisa membangun diatas kebohongan sejarah, diatas kepalsuan perjanjian misalnya; perjanjian New York Agreement dan Roma Agreement 1962 yang dibuat oleh Pemerintah kolonialisme Indonesia, Amerika Serikat dan Belanda tanpa melibatkan rakyat dan bangsa Papua Barat yang punya tanah, punya gunung, punya air, punya emas, punya hutan, punya dusun, dan punya bangsa west Papua merupakan perjanjian kepalsuan dan kebohongan cacat hukum internasional dan moral yang pernah ada di tubuh bangsa kolonial Indonesia. Prof.Dr. Franz Magnis Suseno melihat dan mengamati  kebohongan dan kejahatan kolonial Indonesia berjalan telanjang di atas bangsa dan rakyat West Papua,sehingga Prof.Dr. Franz dengan jujur menyatakan bahwa ” orang-orang Papua Barat belum di akui sebagai manusia dan Papua merupakan luka dan nanah membusuk didalam tubuh bangsa Indonesia karena Papua merupakan tidak normal dan tidak aman karena media asing tertutup bagi Wilayah Papua Barat.”

Pemerintah kolonial Indonesia ingatlah dan sadar dengan pernyataan yang disampaikan oleh Putu Wijaya bahwa “perdamaian yang palsu lebih ganas dari perang.” Kita merujuk pada pernyataan Putu bahwa Indonesia dan Papua Barat tidak akan pernah persatu, berdamai dan apalagi menjadi satu bangsa, satu negara, satu ideologi dan satu sejarah rumah yang bernama NKRI yang tidak jelas nasib bangsa yang sebenarnya. Karena kolonialisme Indonesia merebut bangsa Papua Barat berdasarkan kebohongan sejarah, penipuan perjanjian New York Agreement, Roma Agreement,Aneksasi bangsa West Papua dengan kekerasan militer Indonesia (1 mei 1963), kepentingan perampokan emas Papua (PT. Freeport Mc Mooran) dengan penuh kepalsuan perjanjian yang bernama kontrak karya (7 april 1967) dan lebih lanjut kejahatan kebohongan dan rekayasa bangsa Papua Barat merupakan penentuan pendapat rakyat (PEPERA) 1969, yang penuh dengan tidak demokratis dan melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan hukum nasional Indonesia terkait dengan hak menentukan nasib sendiri merupakan praktek mekanisme hukum internasional yang dimana satu orang satu suara (One men one vote). Persis apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Amien Rais bahwa Papua tetap akan pisahkan diri  dari Indonesia karena kesalahan kita sendiri dari awal,kami tidak mengambil hati orang Papua dengan baik”.

kami angkat senjata dan lawan kolonial Indonesia bukan untuk minta makan, minta minum, minta pembangunan dan uang melainkan kita angkat senjata dan lawan penjajah Indonesia merupakan minta pengakuan kemerdekaan bangsa Papua Barat sebagaimana semestinya yang terjadi pada 1 Desember 1961 yang di mana kami bangsa dan rakyat West Papua serta dunia internasional kenal dengan hari kemerdekaan bangsa West Papua (Egianus Kogeya TPNPB-OPM KODAP III Darakma-Ndugama).

Lebih lanjut Egianus dengar Bupati Nduga Namia Gwijangge dan jajaran pemerintah daerah kabupaten Nduga stop! membangun jalan, pembangunan infrastruktur, pemekaran desa dan segala macam tawaran program pemerintah kolonialisme Indonesia, harus dengar baik-baik kami akan bakar semua fasilitas buatan kolonial Indonesia karena kami tidak minta segala macam produk kolonialisme Indonesia tersebut (2022).melainkan kami hanya minta Satu yaitu: “PENGAKUAN KEMERDEKAAN BANGSA PAPUA BARAT” Itu merupakan tuntutan dan permintaan kami tegas Egianus. 

Selanjutnya pada tanggal 7 februari 2023, setelah segera mengamankan seorang pilot susi air Mehrtens warga negara Selandia Baru tersebut sebagai alat tawar menawar kemerdekaan bangsa West Papua dengan tegas memberikan pernyataan sikap kepada pemerintah Kabupaten Nduga,pemerintah pusat kolonial Indonesia dan pemerintah dunia internasional bahwa “saya amankan pilot susi air Mehrtens ini tujuannya adalah agar pemerintah kolonial Indonesia Mengakui kemerdekaan Bangsa Papua Barat”.lebih lanjut kami tidak minta pembangunan,uang,minum dan makan melainkan kami minta adalah pengakuan kemerdekaan bangsa Papua Barat. 

Kami teringat betul pada tahun 1996 sandara tim Lorentz 95 di Mapnduma yang di sandarakan oleh TPNPB-OPM KODAP III Nduga di bawah pimpinan Jendral Kelyk Kwalik,Silas Kogeya bapa kandung daripada Egianus Kogeya,Daniel Kogeya bapa kandung daripada Pemne Kogeya dan Daud Lokbere. Sandara tersebut bertahan selama 130 hari dan sandara Mapnduma terdiri dari 26 orang dan mereka berasal dari berbagai negara yakni ada yang dari  Australia, Inggris,Indonesia dan Akademisi dari Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura provinsi Papua. 

pada waktu itu, kelyk berpidato di hadapan palang merah Internasional (PMI) palsu dengan tegas menyatakan bahwa “jika saya minta umbi maka kalian harus kasih saya umbi juga dan kalau saya minta merdeka maka kalian harus kasih saya merdeka”.artinya harga kemerdekaan bangsa West Papua tidak bisa di tawar menawar dengan hal-hal lain yang di inginkan oleh bangsa penjajah entah uang,pembangunan dan sebagainya yang merupakan didalam pikiran bangsa penjajah. 

Merujuk pada pernyataan kelyk tahun 1996,sangat persis dengan tuntutan dan pernyataan Egianus Kogeya dan pasukannya mulai dari tahun 2018 sampai dengan detik ini. Hanya bangsa bodoh, bangsa dungu, bangsa tuli,bangsa buta,bangsa bisu dan bangsa tidak punya hati nurani kemanusiaan saja yang tidak mengerti dan memahami tuntutan dan permintaan TPNPB-OPM yang sangat jelas dan sangat polos yang berdiri diatas kepala dan mata kita sendiri yaitu MINTA PAPUA MERDEKA dan pisahkan diri dari Kolonialisme Indonesia. 

Bangsa kolonialisme Indonesia, pemerintah elit-elit politik Papua terdiri dari provinsi, kota dan kabupaten terutama pemerintah kolonial  perpanjangan kaki tangan NKRI yang ada diatas tukang belulang rakyat dan suku Nduga dan alam Nduga Kwiyawagi sampai dengan wesak alama berhentilah! pura-pura tuli,pura-pura buta,pura-pura bisu,pura-pura tidak dengar dan bahkan berhentilah! mendukung kolonial meliterisme Indonesia untuk membunuh dan menangkap warga sipil Nduga yang tidak tahu apa-apa dan berhentih! Dan segera bubarkan  palang merah (PM) buatan kolonial Indonesia yang tidak jelas yang di pimpin oleh Tuan. Edison Gwi dan pasukannya. Sebab kejahatan dan kebusukan itu berjalan sembunyi-sembunyi tapi sayangnya kejahatan dan kebusukan itu telah telanjang di dunia maya dengan sendirinya. “Meskipun kebohongan itu lari secepat kilat, satu waktu kebenaran itu akan mengalahkannya ” Prof.Dr. jacob Elfinus Sahetapy.karena kebenaran boleh disalahkan tapi kebenaran tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. 

Dunia sedang memantau kalian para oknum pemerintah kabuten Nduga yang bermain-main  api dengan api seharusnya kalian sadar diri dan tahu diri bahwa Egianus Kogeya TPNPB-OPM KODAP III Darakma-Ndugama dan bersama pasukannya berjuang dan membela untuk kalian para pemerintah Kabupaten Nduga yang terus dan sedang di tindas, diinjak-injak harkat dan martabat kalian,suara-suara kalian di bungkam dan hati nurani kemanusiaan kalian dibunuh secara sistematis oleh kolonialisme Indonesia demi atas nama NKRI harga mati, atas nama infrastruktur, atas nama pemusnahan ras dan etnis Nduga secara berlahan. Tidak tahu kah kalian? Kalian sudah menerima kawin silang (campur) setelah segera itu apakah anakmu rambut keriting ataukah anakmu kulit hitam? Apakah pejabat Nduga sudah kehilangan jati diri sebagai orang Nduga yang tahu sejarah honainya,budayanya, perangnya dan Keturunannya? apakah keturunanmu tidak penting sehingga kalian harus ganti warna rambut keriting dan kulit hitam? ingatlah pejabat Nduga jangan sampai terjadi di Nduga dan Papua seperti Suku Indian dan suku aborigin yang sekarang kehilangan ras dan bangsanya!.

Segera sadar diri dan berhentilah! Jual orang Nduga sendiri demi kepentingan politik jabatan dan kekuasaan sesaat yang di tawarkan oleh pemerintah kolonial Indonesia terhadapmu karena mempertahankan harga diri dan bangsamu lebih berharga daripada produk kolonialisme Indonesia yang kau rebutkan saat ini. 

Kami angkat senjata dan perang adalah untuk anda-anda sekalian pejabat Nduga dan pejabat Papua Barat Sorong sampai Samarai yang sekarang merayap dan menikmati kencing dan tahi penguasa kolonial Indonesia di teritorial West Papua karena kami yang angkat senjata dan lawan penjajah Indonesia adalah kami orang tidak berpendidikan, kami tidak sekolah dan kami adalah orang buta huruf tapi kami sadar diri dan tahu bahwa pendidikan,pengetahuan dan sekolah yang paling tinggi adalah kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebersamaan dan menyelamatkan bangsa,tanah air dan umat manusia Papua Barat yang sedang menderita dibawah cengkraman hegemoni kolonialisme Indonesia. 

Artinya elit-elit politik Papua Sorong sampai Samarai yang sedang kontrol dan menikmati kencing dan tahi penguasa kolonial Indonesia atas penderitaan  tangisan darah dan air mata rakyat Papua Barat kalian punya kewajiban untuk mengusir penjajah Indonesia di teritorial West Papua dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan sendiri.karena kami melihat bahwa kalian adalah boneka buatan kolonial Indonesia dan kalian adalah alat pertahanan eksistensi kolonial Indonesia di atas bangsa west Papua agar penguasa kolonial Indonesia gampang kontrol kalian kapanpun dan dimanapun dengan sesuka hati. 

Sesuka hati kolonial Indonesia di atas bangsa west Papua dibuktikan dengan tidak memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah Papua seperti perdasi dan perdasus padahal Papua merupakan daerah otonomi khusus (Otsus) tapi nyatanya semua kebijakan diatur oleh pemerintah kolonial Indonesia terus apa gunanya uu no.21 tahun 2001 tentang Otsus Papua  Jilid I dan jiid ll + daerah otonomi baru (DOB) di seluruh tanah West Papua kalau kewenangan semua di kendalikan oleh pemerintah kolonial Indonesia?? Misalnya kabupaten Nduga ketika pemerintah kolonial Indonesia mau melakukan operasi militer apakah mereka pernah tanyakan kepada tuan rumah yaitu bupati Nduga?? berhentilah menjadi manusia buta dan manusia purba! Padahal pemerintah kolonial Indonesia jelas-jelas menipu dan penindas kalian secara sistematis dan struktural.

Selanjutnya kami tersinggung juga beberapa hari yang  lalu tepatnya pada tanggal 11 mei 2023,terjadi penculikan terhadap dua anak muda asal Nduga di Kimbim Kabupaten Jayawijaya provinsi Papua Pegunungan Tengah yang di lakukan oleh Tni-porli, intelijen bin bais kolonial Indonesia bersama pemda Nduga yang terdiri dari kapolresta Nduga, kapolresta Jayawijaya, E.Gwijangge selaku Palang Merah (PM) buatan kolonial Indonesia dan dugaan kami semua skenario di desainer sedemikian rupa oleh bupati Nduga demi kepentingan politik kolonial Indonesia tahun 2024.

Sampai saat ini  nasib keberadaan kedua anak muda tersebut tidak di ketahui oleh dunia publik kedua anak muda tersebut masing-masing-masing bernama Yaniro Karunggu dan Ben Karunggu. Kami dapat Informasi bahwa kedua anak muda tersebut suruh ambil pilot susi air Mehrtens yang di sandarakan oleh TPNPB-OPM KODAP III Darakma-Ndugama tapi pertanyaannya apa dua anak muda hubungan dengan pilot susi air Mehrtens ataupun TPNPB-OPM KODAP III Darakma-Ndugama?? Atau jangan sampai pemerintah Nduga kehilangan akal naluri sehat demi  kekuasaan politik kolonial Indonesia tahun 2024 akan mendatang. 

Anak-anak bangsa Papua Barat musti tahu bahwa penyanderaan pilot susi air Mehrtens warga negara Selandia Baru sebagai alat tawar menawar kemerdekaan bangsa West Papua telah melahirkan ketorobosan soal kemerdekaan bangsa West Papua di mata dunia internasional maka dari itu kami sebagai anak-anak bangsa Papua Barat punya kewajiban untuk mendorong pemerintah kolonial Indonesia agar segera mengadakan perundingan antaraTPNPB-OPM dengan pemerintah kolonial Indonesia yang di mediasi oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) agar Papua damai, Indonesia damai dan dunia damai. 

Ada beberapa pertanyaan yang harus di galih oleh rakyat Papua Barat Sorong sampai Samarai adalah bahwa;

1.Pemerintah kolonial Indonesia kemanakan dana bantuan dari PBB untuk sandara pilot susi air Mehrtens?

2.Apakah status organisasi PMI itu lokal, Nasional atau internasional?? PM ini siapakah yang  membentuk Indonesia atau Internasional kalau internasional negara apa saja yang tergabung dalam PMI buatan kolonial Indonesia di Nduga Papua ini?

3.Kemudian lembaga PMI tersebut apakah wajib mendirikan cabang di setiap  Provinsi dan daerah kabupaten atau tidak, termasuk kabupaten Nduga??

4.Lembaga PMI ini dibentuk atau didirikan oleh Indonesia dan saat ini sedang mendorong Edison W, dan  pasukannya  sebagai alat kolonial Indonesia untuk membasmi sesama anak bangsanya sendiri? 

5.didalam benak pemerintah Nduga apakah ada kepentingan politik?? makanan atau jabatan??

6.Apa hubungannya NKRI,Pemda dan Palang Merah buatan kolonial Indonesia sedang berjalan di bawah tanah dengan secara halus di kalangan pengungsi masyarakat Nduga ??

“Setiap peperangan akan tercatat dalam sejarah. Dan mungkin perjuangan menjaga perdamaian ini akan dilupakan sejarah, tapi itu jauh lebih baik dari sebuah peperangan yang diingat sejarah.” Egianus Kogeya 

Medan pertempuran,20  Mei 2023

Hasil catatan situasi Nduga merupakan di tulis oleh kamrad Agitasi dan Propaganda AMP KK-Lombok. Tulisan ini bertujuan untuk melancarkan Agitasi dan Propaganda politik Papua Merdeka untuk pembongkaran kebusukan dan kejahatan didalam tubuh bangsa kolonial Indonesia dan didalam tubuh elit-elit politik pemerintah Nduga Papua merupakan kepanjangan penjajahan, penindasan dan penderitaan rakyat West Papua tidak lain adalah kaki tangan NKRI di teritorial West Papua. 

 

Berita Terkait

Top