Sejarah Gerakan Mahasiswa Papua Dan Perkembangannya 


 

Sumber: Koran kejora – Selasa, 25 Juli 2023. Gerakan Aliansi Mahasiswa Papua  (AMP) KK Yogyakarta bersama Seluruh Mahasiswa Papua, Gerakan Pro Free West Papua antara lain CMK (Cakrawala Muda Kerakyatan), FRI- WP ( Fron Rakyat West Papua), LSS ( Lingkar Studi Sosialis) melakukan Diskusi Publik dengan topik ” Sejarah Gerakan Mahasiswa Papua”. Tujuan dari topik ini sangat sederhana mencoba mengajak seluruh mahasiswa untuk sejauh mana mengenal dan memahami Gerakan-gerakan yang ada di Papua terlebih khusus menyuarkan Hak Menetukan Nasib Sendiri sejak Gerakan mahasiswa muncul di seluruh dunia.

Dalam Diskusi Publik tersebut ada dua sesi yang berlangsung yaitu sesi pertama adalah Pemaparan materi oleh Kedua Pematik dan sesi kedua yaitu diskusi bebas yang di pandu langsung oleh Kawan Kris Agapa anggota aktif AMP KK Yogyakarta. Sebelum diskusi, Kawan Lamek Tebai anggota AMP KK Yogyakarta membuka diskusi dengan doa dan di lanjutkan dengan Salam. Respon dan Partisipan Mahasiswa Papua, Anggota dari setiap Gerakan Pro Free West Papua, Anggota AMP KK Yogyakarta sangat luar biasa dengan presentase kehadiran yang di edarkan mencapai 27 orang.

Kawan Jupe, pematik pertama dalam diskusi ini memaparkan materi dari lahirnya Gerakan Mahasiswa pada dunia internasional tahun 1766 di Amersika sebelum revolusi dunia. Pada tahun 1980-an Gerakan Mahasiswa terbentuk saat masa reformasi di Indonesia sedangkan untuk di Papua pada tahun 1917 didirikan Gerakan Mahasiswa di Pulau Mansinam melalui Pendidikan. 

Sejarah Pergerakan Mahasiswa Papua tahun 1960-an , sangat banyak Gerakan yang di dirikan oleh kaum intelek Papua pada zaman Belanda hingga Indonesia secara ilegal menganeksasikan Papua ke dalam NKRI. Mahasiswa Papua atau lebih dikenal dengan orang-orang terpelajar yang didik oleh van Baal yang secara resmi mendirikan dan membangun kantor Gubernur perwakilan Belanda di Jayapura, Mereka yang didik pada saat itu antara lain adalah; N. Jouwe, M.W. Kaiseppo, P. Torei, M.B. Ramendey, A.S. Onim, N. Tanggakma, F.Poana dan Andullah Arfan. Mereka ini boleh dikatakan orang didikan (mahasiswa/pelajar) pertama di Papua bagian Barat yang melakukan perlawanan secara intelektual. 

Mereka melakukan suatu gerakan untuk mengusir penjajahan dari muka bumi Papua dengan melakukan gerakan dan menetakan anggota Dewan Nieuw Guinea Raad , serta merancang lambing West Papua. tahun 1969, mahasiswa Papua Barat mengkonsilidasikan diri dan turun ke jalan untuk melakukan protes atas hasil Pelaksanaan Pepera 1969, kita bisa mendengar dan juga menyaksikan lewat CD, dimana riak-riak kecil protes mahasiswa dan masyarakat Papua yang menemukan ada kecurangan yang terjadi pada saat pelaksanaan PEPERA 1969. 

Kita bisa melihat bagimana para nasional Papua merangkul beberapa mahasiswa untuk melakukan perjuangan, karena ada kecurangan dimana pihak Indonesia yang sedang memperebutkan Papua justru yang melakukan PEPERA, tidak sesuai dengan kertetapan New York Agrremant yang menetapkan harus ada dibawah kendali UNTHEA dalam demontrasi ini, mereka menyanyikan lagu-lagu rohani, lagu-lagu perjuangan dan yel-yel perlawanan rakyat Papua. Demonstrasi ini di Pimpin oleh Herman Wayoi dan Permenas Hans Torre, Ujarnya. ( Materi Pendidikan Politik AMP : Sejarah Gerakan Mahasiswa Papua). 

Gerakan Mahasiswa Papua Tahun 70-80-an, Kampus Uuniversitas Cenderawasi di dirikan di Jayapura. Saat kampus tersebut hadir, lahirlah Gerakan Mahasiswa Papua yang melawan Sistem Kapitalisme, Imperalisme dan Militerisme melalui musik yang di pelopori oleh Arnold C. AP ddk dalam grop ” Mambesak”. Tujuan dari di bentuknya grop mambesak adalah mengobati trauma dan luka Rakyat Papua dari operasi militer Indonesia yang mana membunuh, membakar dan mengadakan operasi beasar-besaran di teritorial west Papua, pengungsian besar-besaran masyarakat Papua ke Papua New Guieni dan sebagian besar mengungsi ke Belanda.

Gerakan Mahasiswa Papua Tahun 90- an dan lahirlah Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang tak terlepas dari Situasi/kondisi masyarakat Papua, Sejarah Papua, Latar Belakang Budaya, Ras dan Pandangan Politik yang sama antar Mahasiswa intelek saat itu. Ditengah situasi politik yang demikian di Indonesia, para mahasiswa Papua Barat dari berbagai kota di Indonesia berinisiatif membentuk sebuah organisasi politik yang akan mewadahi tuntutan-tuntutan politik mahasiswa Papua Barat secara jelas kepada Indonesia, terutama dalam hal “Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Bangsa yang Merdeka”. AMP telah menata sejumlah mekanisme baru yang lebih efektif dalam menggerakan organisasi ini sebagai organisasi dengan kader-kader yang terdidik, terpimpin, revolusioner, progresif, militan dan terorganisir rapi ditiap basis perjuangan mahasiswa Papua, baik di Papua, Indonesia maupun Internasional. 

tugas suci yang musti diemban oleh setiap kader Aliansi Mahasiswa Papua sampai kemenangan politik kita capai, yaitu “Kemerdekaan Sejati Sebagai Bangsa Papua Barat” yang telah dianeksasi oleh pihak Amerika, Indonesia, Belanda dan PBB ( Materi Pendidikan Politik AMP : Sejarah Gerakan Mahasiswa Papua).

Pemateri ke- dua dalam diskusi menegai ” Sejarah Gerakan Mahasiswa Papua” adalah perwakilan dari Mahasiswa Papua Kawan Demi Dabi. Sebelum mengawalai topik pembicaraan beliau memerikan suata pertanyaan yang sangat menarik ” Mahasiswa/Mahasiswi Papua adalah solusi atau masalah bagi Bangsa Papua?” . Nah, jika solusi maka sebagai mahasiswa Papua solusi apa yang sudah di temukan untuk menyelesaikan persoalan Papua? Dan jika Masalah, maka masalah apa yang diciptakan oleh mahasiswa Papua. 

Dari dua pertanyaan di atas ada beberapa kelompok mahasiswa yang di petakan dan di kategorikan menurut karakter, aktivitas dan komunitas yaitu: (a) kelompok agamais kelompok ini yang terbentuk, dibina dan digerakan sesuai kepercayaan agama. Contohnya adalah PMKRI, Pemuda Gidi, WKRI dan lain-lain. (2) Kelompok Moderat: kelompok yang di bangun dalam gereja atau organisasi untuk terjun ke dunia politik praksits, pemerintahan dll. (3) Kelompok Sukuisme : kelompok yang dimana terpatron pada asal-usul dari mana berasal. Contohnya yaitu Mahasiswa yang tergabung dalam Paguyuban desa, distrik, kabupaten dan Provinsi. (4) Kelompok Pejuang : Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan, terdidik dan memiliki pandangan politik yang jelas dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua dalam menentukan Nasib sendiri. Contoh adalah AMP, GEMPAR, SONAMAPA. Perjuangan mahasiswa Papua tidak hanya berjuang untuk merebut Kemerdekaan tetapi bagaimana mahasiswa/I tersebut merancang system dan tatanan negara setelah Papua merdeka, Tegasnya.

Disesi diskusi bebas partisipan dari Gerakan Mahasiswa Papua AMP, LSS, CMK, FRI-WP dan Mahasiswa Papua yang hadir merespon dan memberikan padangan masing- masing terkait topik diskusi. Dari sekian banyak partisipan yang merespon, ada salah satu Mahasiswa Ppaua yang tergabung dalam Gerakan Lingkar Studi Sosialis (LSS) Yaitu Kawan Musel. Katanya, Sejek Gerakan Mahasiswa lahir tahun 1917 di Amerika dan di Papua Gerakan Mahasiswa sejak tahun 1960- tahun 1990 banyak bermunculan yang di landasi karena sitasi/ kodisi masyarakat, sejarah, kesamaan ras, budaya dan Pandangan Politik. 

Gerakan Mahasiswa Papua atau organisasi lahir tetapi masih mewarisi kesalahan- kesalahan dari generasi ke generasi dan sangat ironisnya lagi bahwa organisasi atau gerakan yang lahir tidak mau atau tidak ingin mencari tahu kelemahan atau kelebihan dari organisasi yang di bentuk dan mencetuskan beberapa sejarah melalui organisasi. Perluh di sadari bahwa untuk menciptakan suatu perubahan atau sejarah bagi suatu bangsa tidak bisa berjalan sendiri atau secara personal tetapi melalui kelompok yang tergabung dalam suatu organisasi. Beliau menutarakan satu pertanyaan “ Gerakan Papua Sudah 100 tahun lebih hadir tetapi mengapa Papua belum merdeka?. pertama adalah Gerakan Papua secara teoritis sangat lemah dan gerakan dibangun tanpa ada dasar teori. Kedua adalah Kualitas perlawanan yang sangat minim karena kesadaran dari setiap individu atau kelopok tercipta karena situasional.

Contoh peristiwa di tahun 2019 ketika terjadi Rasisme, Seluruh Papua dari Sorong sampai Samarai turun aksi/ demo di setiap sudut kota,kabupaten dan provinsi bahkan segala macam sektor tidak berjalan selama berbulan-bulan namun lambat laun semangat nasionalisme itu hilang bahkan tenggelam. Ketiga adalah Minat berorgisasi dan tergabung dalam organisasi perjuangan yang sangat kuarang. Jika tergabung dalam organisasi maka keniginan untuk membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti aksi mendorong seseorang/ individu tersebut dalam berpikir kritis, memiliki anlisis yang yang tajam dan mengikuti perkembangan atau situasi regional, nasional bahkan internasonal dengan sangat muda, ujarnya.

Diamika dalam gerakan terus menerus terjadi dari tahun 1960-1990 tetapi Gerakan Mahasiswa musti menciptkan suatu buadaya untuk menciptakan kesadaran bagi setiap individu, kelompok, masyarakat melalui diskusi, membaca, menulis, dan dengan mengikuti aksi serta turut terlibat dalam gerakan perjuangan. Tujuannya supaya perjuangan terarah, memiliki pandangan politik yang jelas,menjadi mahasiswa revolusioner dan menciptakan sejarah bagi bangsa dan tanah air Papua, sahut Julia Opki, Anggota Aktif Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK Yogyakarta . 

Modertor dengan lantang memberitahukan bahwa Belanda menilai orang Papua sangat sensitive, Indonesia menilai orang Papua dengan padangan negative sehingga letak positifkan adalah Rakya Papua melibatkan diri dalam organ gerakan dan bersama memperjuangkan hak menenetukan nasib sendiri. 

Penulis  merupakan kawan Oceanie Papua (Anggota Aktif AMP KK Yogyakarta) tulisan ini bertujuan untuk melancarkan propaganda politik kemerdekaan bangsa West Papua sebagai solusi demokratis. 

 

 

Berita Terkait

Top