MILITERISME KOLONIAL INDONESIA MENYIKSA WARGA SIPIL NDUGA DALAM INTROGASI ILEGAL DI NDUGAMAย 


 

๐— ๐—”๐—ฆ๐—ฌ๐—”๐—ฅ๐—”๐—ž๐—”๐—ง ๐—ก๐——๐—จ๐—š๐—” ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐——๐—œ๐—ง๐—”๐—ก๐—š๐—ž๐—”๐—ฃ ๐—ฃ๐—”๐——๐—” 17 ๐—ฆ๐—˜๐—ฃ๐—ง๐—˜๐— ๐—•๐—˜๐—ฅ 2023, ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—”๐—Ÿ๐—”๐— ๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—ฌ๐—œ๐—ž๐—ฆ๐—”๐—”๐—ก ๐—ฆ๐—”๐—”๐—ง ๐—œ๐—ก๐—ง๐—˜๐—ฅ๐—ข๐—š๐—”๐—ฆ๐—œ

Setiap anggota Polri dilarang melakukan kekerasan saat melakukan interogasi terhadap tersangka, ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป
==============================

๐—ฎ. ๐—ง๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ž๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ ๐—˜๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ฟ๐—ถ

Masyarakat Nduga yang ditangkap tanggal 17 September 2023, pada hari minggu, mengalami penyiksaan, yang luar biasa, sekalipun mereka sudah di tangan aparat Kepolisian yang merupakan sebagai Aoarat keamanan, tetapi tidak memberikan Rasa Aman bagi Masyarakat yang di tangkap. Polisi menghendaki agar mereka mengakui dengan unsur paksa, dengan penyiksaan.

Dalam proses perkara pidana, asas praduga tidak bersalah diartikan sebagai ketentuan yang menganggap seseorang yang menjalani proses pemidanaan tetap tidak bersalah sehingga harus dihormati hak-haknya sebagai warga negara sampai ada putusan pe- ngadilan negeri yang menyatakan kesalahan- nya.

Kalau kita pelajari dari kejadian ini, seolah-olah mereka yang ditangkap sudah melakukan kesalahan atau terbukti melakukan kesalahan, lalu mereka disiksa, sedangkan kita ketahui belum ada putusan pengadilan, namun mereka diawali perhadapan dengan penyiksaan yang luar biasa. Kita juga ketahui dan telah belajar undang-undang kepolisian No. 2 Tahun 2002, dapat menjelaskan dengan sangat jelas ” ๐—ฃolri sebagai Pelindung, Pengayom, dan pelayan Masyarakat ” merupakan salah satu tugas Pokok Polri ” yang harus di Patuhi.

Kita ketahui dengan sangat jelas Setiap anggota Polri dilarang melakukan kekerasan saat melakukan interogasi terhadap tersangka. Hal itu jelas ditegaskan dalam Pasal 10 huruf c Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.

Tindakan kekerasan fisik yang dilakukan aparat kepolisian merupakan tindakan yang melanggar kode etik penyidik, atas perbuatan tersebut oknum polisi tersebut dapat dikenakan sanksi pidana, sanksi administratif, maupun disiplin polisi.

๐—ฏ. ๐—ž๐—ผ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—บ.

Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia telah diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Resolusinya No. 39/46 tanggal 10 Desember 1984 dan mulai diberlakukan tanggal 26 Juni 1987. Sampai dengan Juni 1992, Konvensi tersebut telah diratifikasi untuk disetujui oleh 58 negara. Indonesia, juga telah meratifikasi konvensi tersebut pada tanggal 28 September 1998 melalui UU No. 5 tahun 1998 dan karenanya menjadi Negara Pihak (negara yang ikut dalam ketentuan) Konvensi.

Uraian sejarah dari Konvensi ini tak bisa dilepaskan dari diumumkannya Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1948, sebagai bagian dari usaha untuk makin menghargai hak asasi dan martabat kemanusiaan. Menyusul dari deklarasi itu, Majelis Umum PBB menugaskan Komisi Hak Asasi Manusia (Komisi HAM) PBB untuk melengkapi DUHAM dengan perjanjian internasional yang lebih mengingkat (kovenan) dan perangkat untuk memenuhinya (protokol fakultatif).

Pada tahun 1952, Majelis Umum memutuskan agar Komisi HAM PBB menyusun dua kovenan secara terpisah, yaitu Kovenan Hak Sipil dan Politik (yang mengacu pada Pasal 1-21 dari DUHAM), dan satu lagi adalah Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (mengacu pada Pasal 22-28 DUHAM). Lewat berbagai perjuangan dari forum ke forum, baru pada tahun 1966 akhirnya Kovenan Sipil dan Politik ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.

Dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik inilah, maka hal tentang manusia bebas dari penyiksaan diatur di dalamnya. Pasal 7 dalam Kovenan ini mengatur dengan sangat jelas konsern tentang perlindungan manusia dari ancaman penyiksaan yang dilakukan pihak lain : โ€œTidak seorangpun boleh dikenai penyiksaan, atau perlakuan atau hukuman yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabatnya, khususnya tidak seorangpun, tanpa persetujuannya secara sukarela dapat dijadikan eksperimen medis atau ilmiah.โ€

Pasal inilah yang kemudian diperluas nantinya menjadi Konvensi khusus yang mengatur masalah anti penyiksaan. Jadi perhatian terhadap masalah anti penyiksaan adalah kelanjutan dari masalah dasar dalam hak-hak asasi manusia. Sejak 10 Desember 1984, isu tentang anti penyiksaan menjadi bagian dari isu Hak Asasi Manusia yang telah diatur dengan sangat spesifik dan mekanisme kontrol terhadap negara pihak di dalamnya.

๐—ฅ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฒ๐—น ๐—ถ๐—ป๐—ถ.

1. ๐— ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜‚๐˜€๐˜‚๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚-๐—ฝ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป, ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป

2. ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ž๐—ฎ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ฟ๐—ถ, ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—ž๐—ฎ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ฟ๐—ฒ๐˜€ ๐—ก๐—ฑ๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ž๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ผ๐—น ๐—ฉ๐—ถ๐—ป๐˜€๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐—๐—ถ๐—บ๐—บ๐˜†. ๐——๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ฟ๐—ฒ๐˜€ ๐—ก๐—ฑ๐˜‚๐—ด๐—ฎ

3. ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ž๐—ฎ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ฟ๐—ถ, ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—ž๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด ๐—ข๐—ฃ๐—ฆ ๐—”๐—ž๐—ฃ ๐—•๐—ฎ๐˜†๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ป๐—ผ. ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป.

๐—ช๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ, 26 ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ 2023

๐—ฃ๐—˜๐— ๐—•๐—˜๐—Ÿ๐—” ๐—›๐—”๐—  ๐——๐—œ ๐—ฃ๐—”๐—ฃ๐—จ๐—”
๐˜๐˜๐—ฑ
๐—ง๐—ต๐—ฒ๐—ผ ๐—›๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—บ
๐—ง๐—ฒ๐—น๐—ฝ๐—ผ๐—ป +6281344553374

 

Doc,ย 

Berita Terkait

Top