KRITIK UNTUK SAUDARA KOBEL DAN ANGGA KEMERDEKAAN 100% DI KOTA MATARAM 


“Setiap kata ejekanmu. Kujadikan doa pembakar semangatku” dan “Aku hanya manusia biasa, tetapi jangan pernah meremehkanku karena aku bisa melakukan hal yang luar biasa yang tidak bisa kalian lakukan.”(Ali Bin Abi Thalib).

“Ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun” (karl marx).

Mahasiswa  harus sering-sering terjun di daerah konflik agraria atau konflik politik agar nilai-nilai kemanusiaanmu  tumbuh bersama dengan ilmu pengetahuan yang anda mendapatkan didunia kampus (Dr.widodo).

Suatu negara tidak bisa membentuk berdasarkan Ras dan Etnis melainkan suatu negara harus berdasarkan sejarah, Sosiologis,Antropologis, geografis,kemanusiaan, ideologis dan kesetaraan sedangkan akibat daripada kehadiran negara adalah perekonomian, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan lain-lain merupakan kewajiban dan tanggung jawab negara karena negara terbentuk karena adanya rakyat. Oleh karena itu orang-orang yang buta sejarah, buta huruf dan beku hati nurani saja yang  tidak memiliki ilmu pengetahuan yang luas sehingga yang timbul hanya kedengkian,kebencian dan serta mendukung kekerasan negara karena buta sejarah, buta kebenaran dan buta informasi. Anak-anak muda Indonesia kebanyakan mengklaim dirinya pejuang rakyat tertindas, terhisap dan termiskin tapi mereka tidak tahu rakyat tertindas yang mereka maksud itu siapa? Gerakan Reformis lain mengklaim dirinya perjuangan Indonesia 100% tapi pandangan dan kajian masih seputar pendidikan gratis, kesehatan gratis dan pembangunan semata merupakan gerakan Reformis dan pantat massa atau mengikuti massa bukan mereka yang pergerakan rakyat tertindas dan terjajah. 

Pengalaman penulis pada tanggal 2019-2020 ada kawan-kawan slogan salam persatuan di kota Mataram kami sebut saja kawan kawan-kawan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) saya di kenalkan sama kawan Jul,Commune, Jihad,Imam dan Ghasen pertama kami ketemu di Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) agenda mau dibahas aksi kamisan Mataram. Kita mulai paparkan berbagai isu-isu baik isu nasional maupun internasional saya mulai paparkan isu pelanggaran HAM sampai soal politik kemerdekaan Papua Barat disana sangat terlihat jelas bahwa kawan-kawan kelompok studi Independen (KSI) Mataram kajian mereka melampaui batas dan mendukung hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis tapi untuk kawan-kawan SMI masih ragu-ragu dengan alasan Papua adalah bagian dari Indonesia. SMI yang pernah ikut aksi kamisan Mataram merupakan massa terbilang besar tapi pada waktu itu saya menyoroti isu Papua Barat dalam operasi politiknya. Maka pada waktu itu kawan-kawan SMI memundurkan diri tidak mau diskusi dengan Mahasiswa Papua melainkan membangun stigma-stigma buruk bahwa KSI dan AMP adalah organisasi pendukung separatis dan sejenisnya. 

Selanjutnya kawan-kawan SMI selalu memanfaatkan Bem-Bem yang ada di kota Mataram lebih-lebih universitas Mataram itu merupakan watak oportunisme, buntuisme,Reformis dan pantat massa slogan selalu mereka banggun adalah salam persatuan kebijakan mereka sangat bertentangan dengan slogan mereka karena setiap konsolidasi isu-isu Papua selalu ditolak bukan isu politik semata tetapi juga isu pelanggaran HAM, ekonomi, pendidikan dan operasi militer Indonesia di Papua Barat. Jika dalam konsolidasi adanya kawan-kawan SMI secara otomatis menolak isu Papua Barat ini adalah realitas.ini adalah fakta dan ini adalah terbukti. Slogan persatuan sama dengan NKRI harga mati, bhineka tunggal ika yang tanpa memiliki roh dan jiwa.

Kami bisa melihat dalam pandangan dan pembicaraan Kobel yang mengklaim dirinya gerakan oposisi pada tanggal 16 Agustus 2023 dalam konten Bang Yusril Hendra akan tetapi kami menilai bahwa kobel adalah cerminan dari SMI dan KPR Mataram karena pandangan dan isi otaknya tidak jauh beda dengan isi otak SMI Mataram yang melihat persoalan Papua Barat berdasarkan kaca mata kuda dan nasionalisme sempit sehingga rakyat Papua Barat berjuang karena berbeda Ras itu merupakan pemikiran fatal dan wawasan sempit. 

Kobel  yang mengklaim dirinya memiliki kapasitas, referensi yang banyak dan memiliki program memadai untuk rakyat Papua Barat tapi sayang isi otaknya tidak seimbang dengan mimpi kemerdekaan 100%,program perusahaan asing yang dimimpikan oleh Soekarno-Soeharto tahun 1950-60-an namun mimpi tersebut telah gagal total namun gerakan reformis yang mengklaim dirinya seorang aktivis dan revolusioner masih bermimpi Nasionasionalisai Borjuis. Kobel juga membawa pasukan sebagai pengawal atau mengikuti seperti Matius, Markas kawan-kawannya menjadi murid Yesus Kristus atau pengawal Kristus salah pasukannya adalah mantan ketua SMI Mataram yang bernama Angga garis keras yang pernah menolak isu-isu Papua dalam konsolidasi-konsolidasi sebelumnya. 

Sisi lain kami melihat Kawan-kawan ini orientasi mereka adalah pendidikan gratis, kesehatan gratis, ekonomi melimpah dan pembangunan merata tapi sayangnya masih ada patronase, kandanase, Nindanase dan ketokohan atau lebih tepatnya adalah Nabi-nabi era modern hari-hari ini. Tepat apa yang dikatakan oleh Angela Davis bahwa “Rasisme adalah bentuk penindasan yang menghambat kemerdekaan berpikir dan kesetaraan” kawan-kawan SMI persoalan Papua Barat masih melihat ras sehingga kemerdekaan berpikir mereka masih abad ke empat balasan walaupun mengklaim dirinya sudah baca buku ideologi ras ala Jerman. 

Dalam perdebatan saya ( Nyamuk Karunggu) Mahasiswa Papua  fakultas hukum Universitas Mataram dan  kawan Kobel Indonesia yang mengklaim dirinya  seorang aktivis, seorang oposisi dan memahami segala aspek tapi ketika penulis bentrokan dengan pandangan hukum Internasional tentang hak menentukan nasib sendiri suatu wilayah,aspek sejarah Papua dan Indonesia serta aspek antropologis sama sekali tidak membantah atau menanggapi malah selalu mengarah secara ekonomis, pendidikan, pembangunan dan lain-lain merupakan pandangan seorang reformis, buntu isme dan gerakan pantat massa. 

Itu membuktikan  dengan seakan-akan dia yang lebih  paham soal masa depan orang Papua, dia yang  lebih menguasai tentang perubahan suatu bangsa namun masih kompromi dengan militeristik dan birokrasi berarti  seorang pejuang perut dan foto-fotoan dengan alat penindas rakyat lebih lucu lagi adalah menyebut Kamrad Surya Anta Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) yang konsisten mendukung kemerdekaan bangsa West Papua ilmu pengetahuan memadai.apa hubungan Surya Anta dengan konten? Atau mungkin kobel patah atau iri hati dengan kawan Surya Anta berjuang dengan konsisten tanpa kompromi atau bisa jadi Kobel tidak mampu menjadi seperti kawan Surya Anta sehingga menyebut nama tanpa sebab. 

Memang kita akui bahwa gerakan anak-anak muda Indonesia kebanyakan gerakan Reformis, buntu isme, Gerakan nasi bungkus, amplop dan sebagainya karena memang mereka tidak memiliki konsep perjuangan yang jelas tapi memalukan kalau mereka mau kasih program Nasionasionalisai untuk orang Papua. Indonesia masih pengemis merajalela, kemiskinan dimana-mana, kelaparan dimana-mana dan penindasan masih merajalela dimana-mana lalu mau memberikan program sangat lucu dan memalukan yang dipikirkan oleh kawan Kobel pengikutnya. 

Apakah Karl Marx berkawan dengan militerisme? Apakah Lenin Berkawan dengan militerisme? Apakah Che Guevara dan Fidel Castro Berkawan dengan militerisme? kalau anak-anak muda Indonesia  yang masih berkawan dengan alat penindas tapi mengklaim dirinya sebagai Seorang Aktivis, seorang oposisi dan seorang revolusioner adalah kemunafikan dan kebohongan di publik. 

Para pembaca perlu mengetahui bahwa Kobel kawan-kawan SMI Mataram tidak duduk bersama mahasiswa west Papua apalagi tukar pikiran, membagikan pengalaman dan membicarakan program perjuangan tapi kalau Kobel tiba-tiba muncul di konten untuk ajak persatuan adalah penipuan belaka dan seakan-akan mengklaim seorang pemersatu bangsa seperti Soekarno dan kawan-kawan. Setelah konten berakhir Kobel dan Angga mengajak kawan-kawan mahasiswa Papua untuk tidak berbicara isu Papua Merdeka tapi bicara soal Nasionasionalisai Perusahaan Asing, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan Tuntutan-tuntutan sektoral lain seperti pembangunan di lontarkan oleh Angga disaksikan mahasiswa Papua antara lainnya adalah Rhey, Naldo Wasiage, Wene Karunggu dan saya Sendiri Nyamuk Karunggu akan tetapi kami membantah bahwa kami bukan anak TK memberikan nasi bubur dalam bentuk program melainkan kami bangsa besar tahu diri asal usul, tahu budaya dan kita memiliki akal sehingga kita telah memiliki konsep perjuangan kami sangat jelas tidak seperti kawan-kawan SMI melihat Papua Barat berdasarkan kaca mata kuda yaitu Rasnya.

Bisa menyimak dan melihat bahwasanya komentar-komentar Angga dan kawan-kawan merasa dirinya hebat pintar dan seolah-olah argumen mereka lebih ilmiah padahal banyak kawan-kawan luar sana menilai Kobel adalah rakus demokrasi, menyebut nama perjuangan misalnya Engels tapi tidak menjelaskan isinya itu adalah kebodohan dan kedunguannya. Angga juga aktif komentar dalam youtube dengan memperlihatkan watak rasis dan sentimental serta arogansinya.Para pembaca perlu ketahui bahwa SMI Mataram bukan hanya anti dengan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tapi juga susah ketemu dengan kawan-kawan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Mataram, Agra dll karena kawan-kawan SMI suka mengklaim sini sana tanpa bukti mereka ini cocok menjadi Soekarnoisme bukan Tan Malaka isme karena Tan Malaka tidak pernah mengklaim diri apalagi mengaku diri banyak referensi Tan Malaka sudah baca banyak buku dan sudah menulis banyak buku tapi tidak pernah mengklaim seperti Kobel.

Solusi konkret yang kami menawarkan kepada NKRI dan kawan-kawan Indonesia pantat massa dan reformisme adalah “menolak segala bentuk produk Kolonial Indonesia di west Papua dan berikan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis”.

“Setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri dalam rangka kesukarelaan”- Lenin.

Masa depan yang lebih baik adalah bangsa yang bebas dari segala bentuk penindasan nasional kriminalisasi rasial, represif, pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan, penahanan, pemenjaraan, penculikan, perkosaan, pembantaian dan pembunuhan.Surya Anta-FRI-WP 

Kejahatan kolonialisme Indonesia di west Papua melebihi batas kemanusiaan kejahatan kemanusiaan masa lalu sampai hari ini,rezim Jokowi Dodo tidak mampu dan tidak sanggup untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan di atas bangsa West Papua malapetaka ini terjadi pada tanggal 1 Desember 1961 awal penjajahan Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan akar persoalan Papua Barat ada empat akar konflik Papua Barat yaitu sebagai berikut; 1. Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia. 2.Kekerasan negara dan pelanggaran HAM Berat Masa Lalu dan sekarang. 3.kriminalisasi dan marginalisasi rakyat Papua Barat di atas tanahnya sendiri. 4.Kegagalan pembangunan yang meliputi pendidikan, kesehatan dan ekonomi. 

Sementara dewan gereja Papua Barat menemukan akar persoalan Papua Barat adalah ketidakadilan dan rasisme yang telah melahirkan 4 akar persoalan Papua Barat di atas tersebut namun pimpinan gereja Papua Barat juga mengatakan bahwa untuk mengakhiri semua persoalan kemanusiaan di atas bangsa West Papua adalah hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis. 

Benar-benar Indonesia menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa west Papua merupakan kejahatan kemanusiaan, kejahatan kriminalisasi rasial, kejahatan pembunuhan liar dan kejahatan pembungkaman ruang demokrasi adalah watak dan bentuk kolonialisme Indonesia yang telah menduduki dan mendiami bangsa Papua Barat yang tidak hubungan darah dengan Indonesia. Atas dasar ini Hatta dengan jelas menyatakan bahwa” saya menolak Bangsa Papua Barat masukan dalam Indonesia karena bangsa west Papua merupakan rumpun ras Melanesia sedangkan kami bangsa Indonesia adalah ras Melayu dengan ini bangsa Papua Barat berhak menentukan nasib sendiri sebagaimana sebuah bangsa” (Baca BPUPKI dan KMB).

Kehadiran NKRI di atas bangsa West Papua bukan untuk membangun bangsa Papua Barat, mendidik bangsa Papua Barat, mensejahterakan bangsa Papua Barat sesuai slogan hampa yang dilontarkan oleh NKRI maupun organisasi reaksioner, oportunis,pantat massa dan buntuisme yang tidak memiliki konsep perjuangan yang tidak jelas yang di perjuangkan sisa-sisa Reformis 98. Para sisa-sisa Reformis ini mimpi tinggi tapi tidak bisa bergerak dan tidak bisa berjuang melainkan mereka menjadi pantat massa atau menunggu pergerakan dari Bem atau masyarakat itu sendiri lalu mereka mengklaim sini dan sana. Bagi gerakan model ini adalah gerakan pantat massa dan oportunisme yang merebut kekuasaan baru dan alat penindas baru di tengah-tengah masyarakat. 

Selain itu  gerakan pantat massa ini tidak pernah mengkaji secara menyeluruh dalam artian melihat persoalan kemanusiaan, pelanggaran HAM berat, kolonialisme, militerisme, rasisme, represif, intimidasi dan penindasan berlipat ganda terhadap rakyat dan bangsa west Papua bahkan buta membaca Genosida, Etnosida dan Eksposisi secara sistematis yang terjadi di west Papua. 

Karena secara realitas objektif pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Militer Indonesia . Pada tanggal 02 – 6 Juli 1998 Rakyat Papua di Biak mengibarkan Bendera Bintang Kejora di Tower secara damai dan demokratis, namun menurut Militer Indonesia hal itu melanggar aturan Negara. Sehingga mereka menciptakan represif hingga ratusan OAP korban jiwa, dan hal itu dikenal dengan Tragedi (Biak Berdarah). Yang kemudian Tragedi (Abepura Berdarah) Pada 7 Desember 2000, Tragedi (Wasior Berdarah ) pada 13 Juni 2001, Tragedi (Uncen Berdarah) pada 16 Maret 2006, dan Tragedi (Wamena Berdarah) Pada 4 April 2003 serta Pengungsi Nduga sejak dari 2018, pengungsi Maybrat, Intan Jaya, Puncak Papua dan secara umum seluruh tanah Papua yang menciptakan pelanggaran HAM berat secara masif atas perintah Imperialisme AS dan Kapitalisme, yang kini Kolonial Indonesia melancarkan dengan kekuatan militerisme Indonesia yang jahat dan biadab.

Dalam Kekuasaan Presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin, melanjutkan Otsus Jilid II dan DOB pada tahun 2021. Mengakibatkan kasus baru yang tidak manusiawi pada 26 Juli 2021 menginjak kepala masyarakat sipil di Merauke menggunakan sepatu laras yang dilakukan oleh TNI AU, dan pada 22 Agustus 2022 Mutilasi yang dilakukan oleh TNI AD terhadap 4 masyarakat sipil antaranya adalah  “Irian Nirigi, Arnold Lokbere, Atis Tini dan Lemanion Nirigi” asal Kabupaten Nduga, di Timika, Papua. Hal ini sangat sadis tidak manusiawi, Karena setelah dibunuh, dimutilasi lalu isi dalam karung dibuang ke sungai pigapu Mimika. Sementara semua kejahatan pelanggaran HAM ini belum selesaikan secara hukum, tetapi pendorong TNI-POLRI terus berjalan masif. Para pelaku atau aktor-aktor pelanggaran HAM adalah Negara kolonialisme Indonesia melalui TNI-Polri yang berwatak kriminal dan reaksioner di Bumi Papua. 

Oleh karena itu, ketika Bangsa Papua Barat masih dalam kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), HAM dan Demokrasi tak akan pernah memihak terhadap Rakyat Papua, Rakyat Papua akan ditindas, di budak sampai habis-habisan. Maka dari itu, Negara Kolonialisme Indonesia harus mengakui Kebenaran Sejarah Kemerdekaan yang dimanipulatif secara sepihak, sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa Papua Barat.

Pembangunan, ekonomi, pendidikan dan nasionalisasi yang di mimpikan oleh gerakan pantat massa dan reformis adalah sangat mengaburkan tuntutan konkret yang diminta dan diperjuangkan oleh rakyat Papua Barat adalah hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi demokratis ini adalah solusi konkret selain dari itu merupakan upaya-upaya kolonial Indonesia bersama-sama antek-anteknya yang mengklaim diri perjuangan rakyat tapi tidak tahu rakyat yang dimaksud, rakyat yang mana? rakyat siapa? Dll 

Tertuntuk Angga dan Kobel menggunakan kacamata kuda cacat lalu melihat persoalan Papua Barat adalah gerakan kemerdekaan saja yang berdasarkan Ras Ideologi Jerman adalah kekeliruan logika berpikir saudara Angga dan Kobel yang  masih berjalan di tempat dan masih bingung arah perjuangannya. Padahal orang-orang memiliki kapasitas dan intelektual mereka mengerti dan memahami perjuangan pembebasan nasional Papua Barat merupakan perjuangan segala bidang entah ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum dan politik merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Namun kita maklumi gaya pikir Angga dan Kobel yang tidak rasional,tidak logis dan cacat pisau analisis kedua saudara kemerdekaan 100% ini sebab apa yang mereka ungkapkan adalah asumsi pribadi bukan berdasarkan objektif kondisi di lapangan. 

Kobel juga mengklaim dirinya bahwa dia memiliki hubungan khusus intelijen sehingga pergerak TPNPB-OPM dia tahu semua dan dia menyebutkan bahwa Egianus Kogoya telpon dengan Muolkodo ketika penulis tanya apakah anda sendiri yang  menyaksikan ketika telepon berlangsung? Kobel diam, setelah segera itu Kobel menyebutkan artikel ilmiah yang pernah membantu amunisi di TPNPB-OPM akan tetapi ketika penulis tanya artikel ilmiah itu siapa yang tulis? Sumber Web apa? Kobel diam rupanya saudara kobel ini suka fitnah gerakan sini sana tanpa berdasarkan bukti atau mungkin saudara Kobel mau menjadi Nabi atau Hakim.. ..

Medan juang, 22 Agustus 2023

Panjang umur hal-hal baik!

Sumber Buku berjudul: Universitas Mataram Menangkap Mahasiswa Papua dan Terancamnya Kebebasan Akademik Bagi Mahasiswa Papua Di Mataram 

 

Berita Terkait

Top