BENDERA MERAH PUTIH BUKAN BENDERA PARTAI POLITIK ATAU BENDERA KLUB SEPAK BOLA


 

Kepalsuan mewarnai TANAH Papua Barat dari Sorong-Merauke

“Saya tidak menyanyi lagu Indonesia raya dan tidak menghormati bendera merah putih. Mengapa saya tidak ikut menyanyi lagu Indonesia raya dan tidak menghormati bendera merah putih? “

Oleh Gembala Dr. Ambirek G. Socratez Yoman

Kedua orang tua, bapa dan mama saya, waktu saya masih kecil di kampung pernah mengajarkan dan menitipkan nilai-nilai hidup kepada saya. 

“Jangan pernah hidup berpura-pura dan munafik dihadapan Tuhan dan sesama manusia. Dalam hidup selalu menghidupi dan merawat kejujuran dan kebenaran sebagai manusia sejati. Jadilah dirimu sendiri, bukan orang lain dan bukan bangsa lain. Kamu orang Lani sejati”. 

Apakah nasihat orang tua kepada saya ini salah?  

Jawabannya: TIDAK. 

TUHAN Allah mengajarkan: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu” (Ulangan 5:16). 

Sangat lucu dan aneh perilaku Badan Intelijen Negara (BIN) di seluruh Tanah Papua Barat dari Sorong sampai Merauke dalam memperlakukan bendera Merah Putih. Membentangkan bendera merah putih di mana-mana seperti bendera partai politik dan juga bendera klub-klup sepak bola di Indonesia.

Ini bukan cara yang benar dan baik untuk mempertahankan Papua Barat dalam wilayah Indonesia. Cara-cara ini memperlihatkan kepanikan Negara dengan memaksa dan membujuk rakyat untuk melakukan tanpa kesadaran nasionalisme keindonesiaan atau mereka memiliki bendera merah putih.

Pengibaran bendera merah putih secara besar-besaran di Tanah Papua Barat mencerminkan kepanikan penguasa Indonesia atas persoalan ketidakadilan dan pelanggaran HAM berat yang terus menjadi sorotan komunitas internasional. 

Menurut pengamatan dan analisa saya, negara panik dengan melihat bendera Bintang Kejora berkibar di Vanuatu pada saat Festival Kebudayaan Melanesia pada 19-31 Juli 2023.

Apakah bendera merah putih sudah diubah menjadi salah satu partai politik di Indonesia?

Ini bukan tanda-tanda kemenangan. Ini tanda-tanda kepalsuan dan pemaksaan yang tidak mempunyai dampak. Ini hanya serimonial dan dilupakan dan diulang dengan hal yang sama pada tahun berikutnya. 

Karena pengibaran bendera merah putih hampir sama dengan bendera partai politik pada saat kampanye pemilihan umum atau bendera klub-klub sepak bola yang dikibarkan dalam lapangan kampanye dan pertandingan sedang berlangsung.

Dua puluh tahun lalu, di seluruh Tanah Papua Barat di mana-mana,di depan Kantor Kodam, Korem, Kodim, Koramil, Polda, Polres, Polsek dan Brimob dan dimana saja ditempat tulisan NKRI harga mati dan itu tidak menyelesaikan akar konflik Papua. 

Sekarang ini penguasa Indonesia sibuk kibarkan bendera merah putih di pinggir jalan, di pohon-pohon, di bukit-bukit, di gunung-gunung di pinggir danau, cat bendera merah putih di atas batu, di pohon, di rumput-rumput. 

Para mahasiswa memikul bendera dan keliling pantai seperti di Nabire pada 12 Agustus 2023.  

Apakah ini yang dimaksud dengan mencintai Indonesia? Apakah ini mencerminkan nasionalisme keindonesiaan yang lahir dalam kesadaran? 

Cara yang bermartabat dan terhormat untuk mempertahankan Papua Barat dalam wilayah Indonesia ialah menyelesaikan 4 akar konflik yang dirumuskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sekarang Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).

Luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia adalah 4 pokok akar masalah Papua. Pemerintah harus menyelesaikan 4 akar persoalan Papua yang dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008), yaitu:

1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian; 

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri; 

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Saya mau membagi pengalaman saya. Saya tidak pernah menyanyi lagu Indonesia dan tidak menghormati bendera merah putih.

Mengapa saya tidak ikut menyanyi lagu Indonesia raya dan tidak menghormati bendera merah putih?

Pada 17 Desember 2017, ada pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih kabupaten Puncak Jaya. Saya diundang dan mengikuti dengan baik seluruh proses pelantikan bupati terpilih periode 2017-2022.

Saya duduk di kursi nomor 1 dari kursi deretan kedua dari kursi deretan pertama. Karena kursi deretan pertama dikhususkan untuk para bupati.

Memang ruang sidang itu ukurannya kecil. Bapak gubernur Papua Lukas Enembe, Ketua DPRP Papua Yunus Wonda, dan Ketua DPRD Puncak Jaya Nesko Wonda duduk di depan untuk proses pelantikan bupati dan wakil bupati. 

Protokol mengajak bapak gubernur dan para undangan dipersilahkan berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Semua hadirin ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. 

Tetapi, saya memilih diam dan tidak ikut menyanyi dan dalam keadaan mulut tertutup dan juga hati tertutup menatap ke depan melihat bapak gubernur dan Ketua DPRP dan Ketua DPRD.

Mengapa saya tidak ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya? 

Karena kedua orang tua, bapa dan mama saya, pernah mengajarkan dan menitipkan nilai-nilai hidup kepada saya: 

“Jangan pernah hidup berpura-pura dan munafik dihadapan Tuhan dan sesama manusia. Dalam hidup selalu menghidupi dan merawat kejujuran dan kebenaran sebagai manusia sejati. Jadilah dirimu sendiri, bukan orang lain, bukan bangsa lain. Kamu orang Lain. Jangan hidup dihati lain dan pikiran lain tapi berbicara lain. Itu tidak memuliakan nama Tuhan dan tidak menghormati martabat kemanusiaan dan merusak diri sendiri. Hidup harus selalu jujur dan mengatakan yang benar supaya hidup dipelihara dan dilindungi oleh kejujuran dan kebenaran”.

Pertanyaan saya, apakah berkata jujur dan benar itu merugikan orang lain?  

“Orang jujurlah akan mendiami tanah” (Amsal 2:21). “Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya” (Amsal 10:30). “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusan” (Amsal 10:32).”Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya” (Amsal 11:6). “Kebenaran menjaga orang yang saleh jalannya.” (Amsal 13:6). “Kebenaran meninggikan derajat bangsa” (Amsal 14:34).

Orang bisa katakan, pak Yoman tidak hargai upacara itu dan sebaiknya ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ada beberapa prinsip sebagai pegangan dan pijakan hidup saya, yaitu,

 (1) saya harus memelihara dan merawat nasihat kedua orang tua, ayah dan ibu saya sebagai tongkat, pedoman, pijakan dan kompas dalam kehidupan saya;

(2) saya tidak bisa dipaksa oleh siapapun untuk melakukan sesuatu yang ditolak hati dan pikiran saya; 

(3) saya tidak boleh memelihara kemunafikan dan ada kepura-puraan dalam hidup saya;

(4) saya tahu, saya sadar dan saya mengerti, lagu itu bukan lagu saya, karena itu lagu bangsa asing, Indonesia; dan 

(5) lagu saya “Hai Tanahku Papua.” Lagu “Hai Tanah Papua” adalah lagu kebangsaan saya.

(6) Dan bendera saya ialah “Bintang Kejora” bendera kebangsaan saya.

Para pembaca perlu tahu, bahwa saya akan menghormati dan mencitai dan memelihara, kalau lagu dan bendera itu benar-benar milik rakyat dan bangsa saya. Jangan memaksa saya untuk menyanyi Lagu Indonesia Raya dan menghormati bendera Merah Putih, karena itu bukan milik rakyat dan bangsa Papua Barat. 

Lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih adalah simbol-simbol penjajahan dan kolonialisme di Tanah Papua Barat. Pengalaman selama 62 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang ini kita sama-sama melihat dan menyaksikan dan mengalami ada kekejaman dan kejahatan negara terhadap Penduduk Orang Asli Papua. 

1. Lagu Indonesia raya dan bendera merah-putih adalah lagu dan bendera penjajah yang telah menjajah bangsa Papua Barat sejak 19 Desember 1961. 

2. Lagu Indonesia raya dan bendera merah-putih adalah lagu dan bendera yang telah merampas hak hidup bangsa Papua Barat. 

3. Lagu Indonesia raya dan bendera merah-putih adalah lagu dan bendera yang telah merampok semua hasil alam kekayaan bangsa Papua Barat. 

4. Lagu Indonesia raya dan bendera merah-putih adalah lagu dan bendera yang telah membunuh puluhan ribu nyawa bangsa Papua Barat dan para pendeta dan Pastor Papua Barat secara biadab.

Doa dan harapan penulis, artikel pendek ini menjadi berkat. Waa…Waa…Wa….

Ita Wakhu Purom, 13 Agustus 2023

Penulis: 

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).

2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).

3. Amggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).

4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

__________

Nomor HP/WA: 08124888458/// 08128888712

Berita Terkait

Top