Himbauan Umum Aksi Serentak Nasional Aliansi Mahasiswa Papua (AMP): “60 Tahun Aneksasi Bangsa Papua Ke dalam Bingkai Kolonial Republik Indonesia dan Hari Buruh Sedunia”


1 Mei 1963 merupakan peristiwa bersejarah yang selalu diperingati setiap tahun oleh Indonesia sebagai hari kemenangan. Tapi bagi orang Papua adalah awal mulainya penindasan.

Bagi pemerintah Indonesia, hari memetik
kemenangan dari berbagai upaya dalam merebut Irian Barat kembali ke Pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam setiap peringatan, selalu kampanye keberhasilan pembangunan di Papua. Mamun Sejak, 01 Mei 1963 bagi rakyat papua merupakan hari Aneksasi bagi bangsa Papua Barat yang masih sedang memainkan praktek-praktek kolonial-Nya.

Bagi orang Papua, 1 Mei merupakan awal dari pemusnahan terhadap orang Papua dan perampasan sumber daya alam di Papua. Bagi Aktifis Pro-Papua, 1 Mei patut diprotes keras oleh rakyat Papua, karena sebab awal mula buramnya Nasib West Papua dimulai.

01 mei juga di peringati sebagai Hari May Day/ Hari Buru. May Day atau Hari Buruh Sedunia jatuh tanggal 1 Mei. Mengutip dari situs Britannica, gerakan buruh saat May Day bermula pada abad ke-19 di Amerika Serikat, di mana para buruh menuntut hak-hak pekerja, salah satunya menuntut jam kerja menjadi maksimal delapan jam per hari.

May Day juga untuk memperingati peristiwa Kerusuhan Haymarket di Chicago tahun 1886. Pada momentum tersebut, terjadi konflik antara buruh pengunjuk rasa dan polisi.
Sebelum terjadi momentum Haymarket Chicago, organisasi buruh terbesar di Amerika (Knights of Labour) mendukung gerakan para pekerja untuk mogok dan berdemonstrasi. Kemudian, barulah terjadi kerusuhan di Haymarket Chicago.
Saat itu, polisi mencoba untuk meredam aksi massa. Namun, ada oknum yang melempar bom dan polisi langsung mengeluarkan tembakan acak. Akibatnya, tujuh petugas polisi tewas dan 60 lainnya terluka, serta 4 hingga 8 korban sipil diperkirakan tewas dan 30-40 orang terluka. Melansir dari situs Times, Konferensi Sosialis Internasional pada tahun 1889 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur internasional buruh (Hari Buruh Internasional) untuk memperingati peristiwa Haymarket

Begitu juga, Bagi rakyat papua 1 Mei 1963 terjadi penyerahan kekuasaan dari pemerintah PBB melalui UNTEA kepada Indonesia. Penyerahan kekuasaan itu merupakan legitimasi indonesia untuk menempatkan militernya dalam jumlah besar di Wilayah Papua Barat.

Sebelumnya, pada 19 Desember 1961, Soekarno memberitahukan proses pelaksanaan Trikora di alun-alun Utara Yogyakarta dan memberikan Komando Mandala. Mayor Jendral Soeharto diangkat menjadi panglima.

Tugas Komando Mandala adalah merancang, menjadikan, dan melakukan operasi militer untuk menyatukan Papua Barat bagian dari Indonesia. Kemudian Indonesia melakukan ekpansi militer untuk merebut Wilayah Papua dari tangan Belanda.

1 Oktober 1962, UNTEA mengambil alih administrasi Pemerintah Papua Barat dan pada 1 Mei 1963, pemerintahan UNTEA diserahkan kepada pemerintah Indonesia.

Ketika Indonesia mulai mempunyai wewenang di Papua, kekerasan sistematis terhadap masyarakat Papua dalam upaya membasmi organisasi Papua Merdeka.

Hingga saat ini, operasi militer dan kekerasan masih terus berlangsung. Orang Papua terus diburuh dan dibunuh. Penyelesaian kasus pelanggaran HAM tidak pernah diselesaikan, bahkan semakin bertambah. Perampasan dan eksploitasi kekayaan alam semakin masif.

Berbagai peristiwa kejahatan terhadap kemanusiaan terus terjadi di Papua Barat, hutan dan tanah-tanah adat dijadikan lahan jarahan bagi investasi perusahaan-perusahaan Multi National Coorporation (MNC) milik negara-negara Imperialis. Ikut serta juga, Pembungkaman terhadap ruang demokrasi semakin nyata dilakukan oleh aparat negara (TNI-Polri) dengan melarang adanya kebebasan berekspresi bagi Rakyat Papua Barat didepan umum serta penangkapan disertai penganiayaan terhadap aktivis-aktivis perjuangan Pembebasan Papua Barat.

Kondisi ini tidak terlepas dengan sejarah Papua Barat Bahwa sejak, 01 Desember 1961 di Holandia (Jayapura) Negara Papua Barat telah di akui sebagai bangsa yang merdeka dan mendeklarasikan di bawa Pemerintahan Belanda serta telah disiarkan melalui radio Australia dan Belanda. Selama kemerdekaan Bangsa Papua Barat ketentuan kebangsaan telah di sahkan secara de Facto dan de Jure. Sementara itu, gejolak penolakan terhadap kemerdekaan Bangsa Papua Barat Indonesia menentang atas kemrdekaan itu sehingga tepat pada 19 Desember 1961 melalui Ir. Soekarno mengumandangkan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta dengan tiga tuntutan pertama, Bubarkan Negara Boneka Papua Barat Buatan Belanda, Kibarkan Bendera Merah Putih di seluruh Irian Barat/Papua Barat, dan Bersiaplah untuk Mobilisai Umum. Sehingga Indonesia menghadirkan intervensi Internasional dan Militer untuk menganeksasi secara persenjataan serta memanipulasi sejarah Rakyat bangsa Papua Barat. Pada Tahun 1962 Soekarno Melakukan Serangan dengan Operasi Sandi: Jayawijaya yang di pimpin oleh Jendral. Suharto dalam menganeksasi bangsa Papua Barat dengan kekuatan militer. Akibat dari itu, Manifesto Politik antara Indonesia dan Belanda membuat Agenda mengenai perjanjian-perjanjian atas Papua Barat; Sementara Amerika Serikat sebagai penengah. Setidaknya, dua perjanjian yang di lakukan The New York Agreement [15 Agustus 1962] dan Roma Agreement [30 September 1962]. Dari kedua, perjanjian dilakukan tanpa wakil rakyat Papua Barat satu pun tidak dihadirkan dan hanya sepihak dilakukan antara Belanda, Indonesia dan Amerika Serikat.

Dari Perjanjian yang dilakukan, point utama adalah menganeksasi Rakyat bangsa Papua Barat tepat pada 01 Mei 1963 melalui UNTEA [United Nation Temporary Executivee Authority]. Pemerintah Belanda menyerahkan Papua Barat ke UNTEA dan UNTEA Menyerahkan Papua Barat ke Indonesia. Setelah menganeksasi Papua Barat bahwa UNTEA dan Indonesia telah melanggar Hukum Internasional, Melanggar Prinsip-Prinsip Demokrasi, dan Melanggar Hak-Hak Dasar Masyarakat Papua Barat sesuai perjanjian yang di tetapkan tanpa melihat hak kemerdekaan bangsa Papua Barat yang telah dicapai sejak itu.

Setelah merebut wilayah Papua Barat dimasukan secara paksa atau Aneksasi . Dilakukan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) oleh Indonesia pada tahun 1969 dengan cara Indonesia yaitu “MUSYAWARAH” dan melanggar dari ketentuan perjanjian yang di atur. Dalam Keadaan itu, Amerika Serikat telah melakukan kontrak karya pertama PT.Freeport Tahun 1967 sebelum dua Tahun PEPERA 1969 dilakukan. Wilayah Papua Barat dijadikan wilayah jajahan sampai saat ini. Indonesia mulai memperketat wilayah Papua Barat dengan berbagai Operasi sapu bersih terhadap gerakan perlawanan Rakyat Papua Barat yang tidak menghendaki kehadiran kolonial Indonesia di Papua Barat. Berbagai cara telah Indonesia lakukan terhadap Rakyat Papua Barat ketika wilayah Papua Barat di rebut secara paksa; bahkan kehadiran sistem pemerintah dan Militer (TNI-PORLI) Indonesia di Tanah Papua Barat melalukkan beragam kekerasaan seperti Pembunuhan, Pemerkosaan, Perampasan, Penistaan, Rasisme, penembakan; Sertakan dengan pengurasan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) tanpa ketentuan hukum yang jelas dan rasisme yang tidak berakhir sampai hari ini.

Otsus dan Dob Di lakukan Tanpa sepegetahuan rakyat papua. Pemerintah degan segaja megesahkan demi keuntugan sepihak dan pembunuhan sistematis terhadap rakyat papua.

Negara terus membiarakan Aparat yang di kirim ke papua. Sedangkan rakay papua trajma karena pegiriman militer yang berlebihan di papua. Bahkan dalam pencarian pilot susi air panglima Yudo Margo menaikan Operasi di papua degan nama Siaga tempur.

Kondisi ini sangat di sayangkan, sebab negara telah melakukan hal berlebihan terhadap warga papua, siaga tempur ini akan membuat warga sipil jatuh korban karena operasi operasi sebelumnya juga sama saja, rakyat mejadi korban

Untuk itu Kepada Setiap kawan di medang Perjuagan, saatnya kobarkan api, sebab negara tidak lagi memihak rakyat kecil dan tertindas.

#aneksasi #mayday #cabutdob #cabutotsus #referendumyes #papuamerdeka

Sumber: Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)

Berita Terkait

Top